Showing posts with label keluarga islam. Show all posts
Showing posts with label keluarga islam. Show all posts
Tidak semua wanita menyukai sayuran yang rasanya pahit seperti pare atau dikenal dengan nama paria (momordica charantina). Pare sering dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional di beberapa negara seperti Brazil dan Meksiko. Akan tetapi, terkadang mungkin anda bertanya-tanya apa yang anda dapatkan dari sayuran pahit ini ? Maka berikut pembahasannya:

Pare adalah tanaman yang merambat, buahnya menyerupai mentimun akan tetapi memiliki kulit yang keriput dan rasa yang khas, pahit. Pare ternyata banyak jenisnya dan tumbuh subur di beberapa negara termasuk Indonesia. Di dalam pare terdapat kandungan yang ternyata memiliki kemampuan untuk mencegah beberapa penyakit seperti adanya charantin, vicine juga kandungan bioaktif lainnya yang menyehatkan untuk tubuh anda. Ternyata tidak hanya buahnya yang mempunyai khasiat untuk anda, daun pare juga memiliki kemampuan untuk masalah pencernaan.

Ini Dia Khasiat Sayuran Pare Untuk Anda :

1.  Mengusir Diabetes

Adanya antidiabetes di dalam pare dipercaya mampu menekan resiko diabetes pada tubuh. Selain itu,  kemampuan bioaktif yang terdapat pada biji sayuran pare mampu mencegah adanya peningkatan gula darah setelah makan.

2.  Menangkal Sel kanker

Wanita rentan terhadap beberapa kanker yang membuat ancaman bagi dirinya, diantaranya kanker serviks sebagai pembunuh nomor satu disusul oleh kanker payudara diperingkat selanjutnya. Maka penting untuk anda dalam menangkal sel kanker tersebut. Pare mempunyai kemampuan untuk menangkal sel kanker dengan kandungan zat lesichin yang ternyata bermanfaat dalam meningkatkan kekebalan dan menangkal sel kanker di tubuh anda.

3.  Menurunkan Berat Badan

Pare merupakan sayuran yang direkomendasikan untuk anda yang ingin menurunkan berat badan atau menjaga kestabilan berat badan anda. Dalam secangkir pare ternyata memiliki 16 kalori sehingga mampu membuat anda mengontrol nafsu makan dan membuat anda cepat kenyang. Tidak ada salahnya anda untuk mengkonsumsi pare di dalam menu makan anda sehingga membantu anda mendapatkan berat badan ideal.

4.  Membersihkan Darah

Sayuran pare juga memiliki kandungan zat yang mampu membersihkan darah anda. Anda dapat mengkonsumsinya dengan cara di jus sehingga mendapatkan hasil yang maksimal. Konsumsi rutin pada pagi dan malam hari, dengan demikian dapat membantu anda dalam membersihkan darah.

5.  Memerangi HIV/AIDS

Adanya kandungan protein alpha-momocharin atau MAP 30 ternyata mampu membatasi perkembangan HIV. Pernyataan tersebut didukung penelitian yang dilakukan pada beberapa pasien yang mengidap AIDS yang diberikan ekstrak pare dan hasilnya kekebalan tubuh pasien tersebut meningkat.

6.  Melancarkan Pencernaan

Sayuran pare kaya dengan kandungan serat, vitamin C, kalium dan karoten. Rasa pahit pada sayuran pare ternyata sangat baik untuk membantu anda dalam mengatasi masalah pencernaan. Anda bisa menambahkan menu makan anda dengan beberapa olahan pare.

7.  Mengatasi Asma

Sebuah studi menyatakan bahwa konsumsi sayuran pare ternyata merespon indera pengecapan sehingga sel saluran pernapasan ikut aktif dan menyebabkan saluran pernapasan menjadi luas dan masuknya aliran udara yang kuat. Ini bagus untuk anda yang menderita asma.

8.  Kecantikan

Tidak banyak yang tahu ternyata vitamin c yang dihasilkan oleh pare dapat membantu anda dalam memelihara kecantikan anda dan ancaman efek buruk dari sinar ultraviolet juga dapat dicegah dengan mengkonsumsi sayuran pare.

Selain itu, ternyata sayuran pare juga dapat menurunkan demam, bisul, disentri amuba, wasir , bronkhitis obat malaria dan penyakit kuning. Masihkah anda ragu untuk mengkonsumsi sayuran pare, setelah mengetahui banyak sekali manfaat untuk kesehatan anda?
Di bawah ini adalah 10 perilaku yang harus dihindari oleh para istri, agar tidak menjadi golongan istri durhaka kepada suami, diantaranya adalah:

1. Menuntut keluarga yang ideal dan sempurna
Sebelum menikah, seorang wanita membayangkan pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang sangat romantis sebagaimana ia baca dalam novel maupun ia saksikan dalam sinetron-sinetron.

Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Kelelahan yang sangat, cape, masalah keuangan, dan segudang problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambaran nya.

Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak-enak dalam sebuah perkawinan.

Akhirnya, ketika ia harus menghadapi semua itu, ia tidak siap. Ia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut, ia selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa ia impikan sejak muda.

Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika ia melihat lembaga perkawinan dengan pemahaman yang utuh, tidak sepotong-potong, romantika keluarga beserta problematika yang ada di dalamnya.

2. Nusyus (tidak taat kepada suami)
Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan untuknya.

Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:

Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.
Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.
Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah
Lalai dalam melayani suami
Mubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang bukan tempatnya
Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya
Keluar rumah tanpa izin suami
Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.
Seorang istri shalihah akan senantiasa menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah, karena tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan taat kapan pun, dalam situasi apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit, suka ataupun duka. Ketaatan istri seperti ini sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan suami.

3. Tidak menyukai keluarga suami
Terkadang seorang istri menginginkan agar seluruh perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada dirinya. Tak boleh sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada selainnya. Termasuk juga kepada orang tua suami. Padahal, di satu sisi, suami harus berbakti dan memuliakan orang tuanya, terlebih ibunya.

Salah satu bentuknya adalah cemburu terhadap ibu mertuanya. Ia menganggap ibu mertua sebagai pesaing utama dalam mendapatkan cinta, perhatian, dan kasih sayang suami. Terkadang, sebagian istri berani menghina dan melecehkan orang tua suami, bahkan ia tak jarang berusaha merayu suami untuk berbuat durhaka kepada orang tuanya. Terkadang istri sengaja mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang tua dan keluarga suami, atau membesar-besarkan suatu masalah, bahkan tak segan untuk memfitnah keluarga suami.

Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga istri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara.

Ikatan pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan dalam sebuah lembaga pernikahan, namun juga ‘pernikahan antar keluarga’. Kedua orang tua suami adalah orang tua istri, keluarga suami adalah keluarga istri, demikian sebaliknya. Menjalin hubungan baik dengan keluarga suami merupakan salah satu keharmonisan keluarga. Suami akan merasa tenang dan bahagia jika istrinya mampu memposisikan dirinya dalam kelurga suami. Hal ini akan menambah cinta dan kasih sayang suami.

4. Tidak menjaga penampilan
Terkadang, seorang istri berhias, berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah, ketika hendak bepergian, menghadiri undangan, ke kantor, mengunjungi saudara maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di luar rumah. Keadaan ini sungguh berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya: terkadang kotor, lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, ia juga hanya mencukupkan dengan aroma dapur yang menyengat.

Jika keadaan ini terus menerus dipelihara oleh istri, jangan heran jika suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar ketimbang di rumah. Semestinya, berhiasnya dia lebih ditujukan kepada suami Janganlah keindahan yang telah dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal suami nya di rumah lebih berhak untuk itu.

5. Kurang berterima kasih
Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa yang ia harapkan. Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun suaminya sudah berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan keinginan-keinginan istrinya.

Istri kurang bahkan tidak memiliki rasa terima kasih kepada suaminya. Ia tidak bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepadanya lewat suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan kekurangan. Sifat qona’ah dan ridho terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya sangat jauh dari dirinya.

Seorang istri yang shalihah tentunya mampu memahami keterbatasan kemampuan suami. Ia tidak akan membebani suami dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami. Ia akan berterima kasih dan mensyukuri apa yang telah diberikan suami. Ia bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya, dengan bersyukur, insya Allah, nikmat Allah akan bertambah.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”

6. Mengingkari kebaikan suami
“Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.” Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.

Ajaib!! wanita sangat dimuliakan di mata Islam, bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar ketimbang ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni mayoritas neraka. Bagaimana ini terjadi?

“Karena kekufuran mereka,” jawab Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa Sallam ketika para sabahat bertanya mengapa hal itu bisa terjadi. Apakah mereka mengingkari Allah?

Bukan, mereka tidak mengingkari Allah, tapi mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat suaminya. Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa, kemudian seorang istri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari seorang suami, maka si istri akan mengatakan bahwa ia tidak melihat kebaikan sedikitpun dari suaminya. Demikian penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari (5197).

Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suami!!

Inilah penyebab banyaknya kaum wanita berada di dalam neraka. Mari kita lihat diri setiap kita, kita saling introspeksi, apa dan bagaimana yang telah kita lakukan kepada suami-suami kita?

Jika kita terbebas dari yang demikian, alhamdulillah. Itulah yang kita harapkan. Berita gembira untukmu wahai saudariku.

Namun jika tidak, kita (sering) mengingkari suami, mengingkari kebaikan-kebaikannya,  maka berhati-hatilah dengan apa yang telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bertobat,  satu-satunya pilihan utuk terhindar dari pedihnya siksa neraka. Selama matahari belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di kerongkongan,  masih ada waktu untuk bertobat. Tapi mengapa mesti nanti? Mengapa mesti menunggu sakaratul maut?

Janganlah engkau katakan besok dan besok wahai saudariku; kejarlah ajalmu,  bukankah engkau tidak tahu kapan engkau akan menemui Robb mu?

“Tidaklah seorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan isterinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami begimu hanyalah seorang tamu yang bisa segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR. At Tirmidzi, hasan)

Wahai saudariku, mari kita lihat, apa yang telah kita lakukan selama ini , jangan pernah bosan dan henti untuk introspeksi diri,  jangan sampai apa yang kita lakukan tanpa kita sadari membawa kita kepada neraka, yang kedahsyatannya tentu sudah Engkau ketahui.

Jika suatu saat, muncul sesuatu yang tidak kita sukai dari suami; janganlah kita mengingkari dan melupakan semua kebaikan yang telah suami kita lakukan.

“Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR.Ahmad)

7. Mengungkit-ungkit kebaikan
Setiap orang tentunya memiliki kebaikan, tak terkecuali seorang istri. Yang jadi masalah adalah jika seorang istri menyebut kebaikan-kebaikannya di depan suami dalam rangka mengungkit-ungkit kebaikannya semata.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” [Al Baqarah: 264]

Abu Dzar radhiyallahu’Anhu meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga kelompok manusia dimana Allah tidak akan berbicara dan tak akan memandang mereka pada hari kiamat. Dia tidak mensucikan mereka dan untuk mereka adzab yang pedih.”

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga kali.” Lalu Abu Dzar bertanya, “Siapakah mereka yang rugi itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang menjulurkan kain sarungnya ke bawah mata kaki (isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang suka bersumpah palsu ketika menjual. ” [HR. Muslim]

8. Sibuk di luar rumah
Seorang istri terkadang memiliki banyak kesibukan di luar rumah. Kesibukan ini tidak ada salahnya, asalkan mendapat izin suami dan tidak sampai mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.

Jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan tanggung jawab nya sebagai seorang istri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya terabaikan.

Ketika suami pulang dari mencari nafkah, ia mendapati rumah belum beres, cucian masih menumpuk, hidangan belum siap, anak-anak belum mandi, dan lain sebagainya. Jika hni terjadi terus menerus, bisa jadi suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar atau di kantor.

9. Cemburu buta
Cemburu merupakan tabiat wanita, ia merupakan suatu ekspresi cinta. Dalam batas-batas tertentu, dapat dikatakan wajar bila seorang istri merasa cemburu dan memendam rasa curiga kepada suami yang jarang berada di rumah. Namun jika rasa cemburu ini berlebihan, melampaui batas, tidak mendasar, dan hanya berasal dari praduga; maka rasa cemburu ini dapat berubah menjadi cemburu yang tercela.

Cemburu yang disyariatkan adalah cemburunya istri terhadap suami karena kemaksiatan yang dilakukannya, misalnya: berzina, mengurangi hak-hak nya, menzhaliminya, atau lebih mendahulukan istri lain ketimbang dirinya. Jika terdapat tanda-tanda yang membenarkan hal ini, maka ini adalah cemburu yang terpuji. Jika hanya dugaan belaka tanpa fakta dan bukti, maka ini adalah cemburu yang tercela.

Jika kecurigaan istri berlebihan, tidak berdasar pada fakta dan bukti, cemburu buta, hal ini tentunya akan mengundang kekesalan dan kejengkelan suami. Ia tidak akan pernah merasa nyaman ketika ada di rumah. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kejengkelannya akan dilampiaskan dengan cara melakukan apa yang disangkakan istri kepada dirinya.

10. Kurang menjaga perasaan suami
Kepekaan suami maupun istri terhadap perasaan pasangannya sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya konflik, kesalahpahaman, dan ketersinggungan. Seorang istri hendaknya senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti perasaan suami, ia mampu menjaga lisannya dari kebiasaan mencaci, berkata keras, dan mengkritik dengan cara memojokkan. Istri selalu berusaha untuk menampakkan wajah yang ramah, menyenangkan, tidak bermuka masam, dan menyejukkan ketika dipandang suaminya.

Demikian beberapa perbuatan yang harus dihindari oleh para istri, yang sudah berjanji menerima suaminya dihadapan Allah SWT ketika didepan penghulu, untuk bisa menerima apa adanya keadaan suaminya. Semoga dengan membaca artikel ini kita dapat menyadarinya betapa perbuatan-perbuatan di atas sangat rusak sekali, dengan menghindari perbuatan-perbuatan tersebut, maka akan menimbulkan akibat keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah. Bisa berkumpul di SurgaNya Allah bersama suami. Menjadi suami istri sampai Surga.
Amiin Yaa Robbal’alamiin…

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy- Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)

Saat ini banyak orangtua yang ingin anaknya dapat membaca, menulis dan berhitung (calistung) sejak usia dini. Padahal, menurut para ahli hal itu dapat merusak tatanan otak anak. 

Seorang pakar tumbuh kembang anak dari Universitas Airlangga, DR Dr Ahmad Suryawan SpA(K), bahkan menghimbau kepada para orang tua untuk tidak mengajarkan calistung sebelum sang anak masuk ke Sekolah Dasar (SD) atau berumur tujuh tahun. 

Menurutnya, mengajarkan anak calistung sebelum waktunya dapat merusak tatanan otak anak, dalam artian anak dalam mengerjakan sesuatu tidak runtut atau selaras. Seharusnya anak yang berumur di bawah tujuh tahun bisa membentuk garis lurus, menggaris, membentuk gambar bangun sederhana dan sebagainya. Sayangnya, pada masyarakat modern saat ini, anak belum tentu bisa menggambar garis lurus malah sudah belajar menghitung. 

Anak memang bisa pintar karena bisa calistung sejak dini, tapi perilakunya tidak runtut dalam menyelesaikan suatu persoalan. Hal itu karena sirkuit di otaknya tidak ‘by order’. Anak akhirnya tidak mengerti urutan.

Terdapat dua kemungkinan bagi anak yang sudah dikenalkan calistung sejak dini. Pertama, bisa calistung karena mengerti caranya dan kedua, anak tersebut bisa karena menghapalkan caranya. 

Kemungkinan pertama bahwa anak mengerti caranya yaitu anak itu tahu kalau empat dikali empat sama dengan 16, kalau 16 itu didapat dari empat sebanyak empat kali. Adapun kemungkinan kedua, anak tersebut hapal kalau empat kali empat tersebut 16. 

Pandangan orang tua saat ini menjadi salah kaprah disebabkan oleh cara menilai prestasi anak yaitu melihat dari hal yang berbau matematika atau akademik dan melupakan prestasi nonakademik. Itulah sebabnya di sejumlah kota besar di Tanah Air marak muncul kursus les membaca yang diperuntukkan bagi anak-anak yang masuk dalam kategori Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). 

Sebenarnya Calistung boleh saja dikenalkan pada anak usia PAUD, tapi tidak boleh jadi evaluasi prestasi. Pengenalan Calistung Program yang tepat pada anak usia PAUD adalah melalui pengenalan calistung, namun hal itu bukan berarti anak belajar calistung sepenuhnya. 

Anak mengenal calistung melalui interaksi dan cara menyenangkan, bukan duduk manis mendengarkan guru mengajar. Contohnya ialah ada sepuluh anak, namun gelas yang ada hanya delapan, dengan demikian otomatis dua anak tidak mendapatkan gelas. 

Sebelum anak memegang pensil, maka anak harus belajar mencapit, setelah tangan anak tersebut kuat baru diberikan pensil yang ukurannya besar. Seperti halnya anak belajar berbicara juga seperti itu mulai ‘mama, mama pergi, baru kemudian mama, ayo pergi’. Jadi tahap demi tahap. Mungkin banyak dari orang tua kita zaman dahulu yang mendidik kita dengan cara yang lebih sistematis. Namun, orang tua sekarang, anak tidak bisa membaca saja marahnya seperti mau kiamat, padahal untuk membuat bayi tersenyum saja butuh berapa bulan kita seperti orang gila, baru kemudian bayi bisa tersenyum. 

Ini membuktikan bahwa ada yang salah dengan sistem pendidikan di Tanah Air, yang mensyaratkan calistung sebelum masuk SD. Hal itu akan membuat para orang tua khawatir dan akhirnya memasukkan anak ke les calistung sebelum anak tersebut masuk ke sekolah dasar. 

Sesungguhnya kualitas tumbuh kembang jangka panjang seorang anak ditentukan oleh keseimbangan faktor resiko dan faktor protektif sejak usia janin di dalam kandungan hingga usia 18 tahun. Maka menurut Psikolog anak Dr Rose Mini, anak usia PAUD seharusnya hanya bermain, karena dengan bermain anak bisa merasa senang. Aktivitas bermain yang dimaksud adalah bermain yang tanpa beban. Jangan memaksa anak bermain sesuatu dengan harapan anak tersebut bertambah pintar.



(fauziya/muslimahzone.com)

Selain ASI, banyak orangtua memberikan air putih kepada si kecil yang masih berusia 0-6 bulan. Entah seusai menyusui maupun di waktu-waktu lainnya. Padahal, kebiasaan itu sangat keliru karena berisiko menyebabkan berbagai dampak kesehatan. Berikut 4 bahaya bila bayi diberi air putih menurut penjelasan Dr. Utami Roesli, Sp.A., MBA., CIML, IBCLC, dari Sentra Laktasi Indonesia:



Infeksi bakteri



Pemberian air putih pada bayi 0–6 bulan berisiko membuat bayi terinfeksi bakteri jika air yang dipakai tercemar. Utami sendiri pernah mempunyai pengalaman, pasiennya yang berusia sekitar 1 bulan, ibunya melaporkan jika bayinya sering buang air besar hingga belasan bahkan puluhan kali dalam sehari. Ibunya mengira anaknya mencret karena penyakit, sehingga yang tadinya diberi ASI, kemudian diberikan juga air putih dan susu formula. Hasilnya bayi yang tadinya mencret normal justru pencernaannya terinfeksi bakteri.



Hal ini diketahui dari feses bayi yang mengandung darah. Kemungkinan besar, infeksi itu muncul karena asupan air putih yang diberikan ibunya. Apalagi jika perlengkapan minumnya tidak higienis, juga cara memasaknya tidak tepat dan sudah tercemar bakteri.



Ganggu otak bayi



Ginjal bayi 0-6 bulan belum berfungsi dengan baik, sehingga jika ia diberi air putih maka air seni akan membawa serta elektrolit dalam darah, misalnya natrium, yang sebenarnya berguna bagi tubuh. Jika kekurangan zat itu, bayi berisiko mengalami kejang. Semakin banyak elektrolit yang “terbuang”, semakin banyak risiko negatif yang dapat dialami. Alhasil, kalau bayi mengeluarkan banyak elektrolit dari semua organ tubuhnya, baik jantung, ginjal atau paru, temasuk otak, maka aktivitas otak dapat terganggu. Gejalanya, bisa berupa suhu tubuh rendah hingga kejang-kejang.



Merusak ginjal



Bahaya lain bila bayi diberi air putih yaitu merusak ginjal. Fungsi ginjal sebagai pengatur keseimbangan cairan di dalam tubuh belumlah sempurna pada bayi usia 0—6 bulan. Memang pada usia kehamilan 35 minggu, ginjal bayi sudah terbentuk, tapi belum berfungsi dengan baik. Begitu pun setelah bayi lahir. Walau bentuk ginjal sudah sempurna. Hal ini bertahan hingga usia bayi 6 bulan.



Lain halnya pada anak dan orang dewasa, ginjal sudah mengatur asupan cairan masuk dengan yang dikeluarkan. Misal, kalau banyak minum, ginjal akan mengatur sehingga berkemihnya sering. Atau pada saat hawa dingin, akan lebih sering buang air kecil. Sebaliknya, pada cuaca panas, kita cenderung lebih jarang buang air kecil.



Intinya, ginjal mengatur keseimbangan cairan/elektrolit dalam tubuh, semisal natrium, kalsium, dan lainnya. Tapi jika kejadiannya saat ginjal belum sempurna kerjanya sudah diberi air putih, tubuh bayi akan kelebihan air atau “keracunan” air. Karena air yang masuk tidak bisa diseimbangkan dengan yang dikeluarkan.



Keracunan



Memang benar bayi harus cukup minum, tapi bukan minum air putih lo. Sebab bayi usia 6 bulan ke bawah minum air putih justru akan merugikan si bayi itu sendiri. Secara naluriah bayi memiliki refleks haus atau keinginan untuk minum. Karena itu, banyak orangtua yang memberikan bayinya tambahan air putih selain ASI. Padahal, ginjal si kecil belum berfungsi dengan baik. Akibatnya, air putih yang diminumnya itu dapat membuat tubuhnya melepaskan sodium (mineral yang dibutuhkan untuk proses metabolisme tubuh).



Padahal, kehilangan sodium dapat memengaruhi aktivitas otak. Ujung-ujungnya, bayi akan mengalami gejala keracunan, di antaranya suhu tubuh rendah, wajah membengkak dan bahkan kejang-kejang. Karena itu, bayi yang minum ASI tidak perlu mengonsumsi air putih. Untuk bayi 0—6 bulan cukup ASI.



Sumber: Tabloid Nakita
Shalat tepat waktu apalagi dilaksanakan secara berjama’ah memang memiliki keutamaan tersendiri. Namun, hal ini sepertinya menjadi tantangan bagi kaum Muslim, khususnya di waktu Shubuh. Bangun saat adzan berkumandang bahkan sebelumnya masih menjadi hal yang sulit dilakukan sebagian orang apalagi oleh anak-anak.

Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai baik seperti shalat shubuh di awal waktu ini perlu dilakukan sejak dini, sehingga ketika memasuki usia baligh mereka telah terbiasa melakukannya bahkan menjadi sesuatu yang ringan.
  

Lalu bagaimana agar anak bisa bangun shubuh tepat waktu? Berikut tipsnya yang dikutip dari ummi-online:

  • Anak sebaiknya tidur tidak terlalu malam

Bagi anak yang sudah sekolah, sebaiknya anak selepas maghrib segera menyiapkan buku, mengaji, belajar dan segera tidur. Idealnya anak tidur tidak terlalu malam agar keesokan paginya mudah untuk di bangunkan.

Rasulullah SAW pun tidak duka begadang, agar dapat shalat malam: Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah.”

  • Memberikan pemahaman pada anak akan keutamaan bangun pagi

Berikut ini hadits mengenai sholat shubuh yang dapat disampaikan kepada anak untuk menumbuhkan motivasi dalam diri anak: “Seseorang yang melaksanakan shalat subuh berjamaah, maka orang itu akan mendapatkan pahala 119 kali dibanding shalat sendiri.”(H.R. Muslim:1049).

“Tidak ada sholat yang lebih berat bagi orang-orang munafiq dari pada sholat subuh dan isya.  Seandainya mereka tahu nilai yang terkandung di dalam kedua sholat itu, pastilah mereka mendatangi (masjid tempat) kedua sholat itu meskipun dengan merangkak.” (Al-Bukhori:617)

  • Mengajarkan Anak Menjaga adab tidur

Sebelum tidur, ajarkan anak untuk wudlu, membaca doa termasuk berdoa dan membaca surat  Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan ayat kursi. Hal ini akan membantu anak tidur lebih tenang dan insya Allah lebih mudah bangun di waktu subuh.

  • Lakukan Hypnosleep ( semacam ‘hipnotis’ sebelum tidur)

Makna hipnotis disini bukan hipnotis yang sebenarnya, melainkan semacam mendoktrin anak dengan bisikan kata-kata sugestif sebelum tidur seperti ini: “Besok adik pasti bisa bangun pagi saat adzan shubuh”.

  • Setel alarm

Gunakan alat-alat pengingat seperti jam meja dan jelaskan kepada anak bahwa saat alarm berbunyi itu tandanya anak harus segera bersiap-siap bangun.

  • Jangan tempatkan TV di kamar anak

Usahakan agar TV tidak diletakkan di kamar anak untuk menghindari anak keasikan menonton TV sehingga tidur terlalu malam.

Setiap orang tua muslim pasti menginginkan anaknya rajin bangun pagi untuk mengerjakan sholat shubuh tepat waktu dan jika memungkinkan ikut sang ayah berjamaah di masjid. Semoga tips agar anak mudah bangun saat shubuh ini bermanfaat untuk mewujudkannya.

(fauziya/muslimahzone.com)
Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, suci, bersih, dan senantiasa nyaman dalam ketaatan kepada Allah. Namun, jiwa anak juga Allah ilhamkan potensi baik dan buruk (takwa dan fujur).

Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, “Setiap anak dilahirkan dlm keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yg menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari&Muslim)

Firman Allah, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); sesuai fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (QS. Ar Rum:30)

Dan firman Allah dalam Al Quran, “Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Dia ilhamkan kepadaNya jalan fujur dan ketakwaannya.” (QS. Asy Syams: 7-8)

Allah menugaskan orangtua untuk memelihara fitrah itu agar senantiasa menyala dalam diri anak-anaknya, memberikan atmosfer kehidupan yang membuat potensi buruk (fujur) dalam jiwa anak tidak tumbuh dan berkembang. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan selalu menghadirkan Allah dalam diri anak kita.

Pada suatu kesempatan, Bunda Elly Risman, seorang psikolog senior yang begitu konsern dengan dunia anak dan keluarga, memberikan tips bagaimana menghadirkan Allah dalam benak anak-anak kita.

Beliau menyarankan agar setiap melepas anak kita pergi main atau kemana saja, atau saat kita pergi meninggalkan anak kemana saja pandanglah matanya dan katakan padanya:

Nak, ingatlah bahwa:
– Allah bersamamu,
– Allah menyaksikanmu,
– Allah memperhatikanmu,
– Allah mencintaimu,
– Allah mencukupkan kebutuhanmu.

Tidak harus semua kata disampaikan, karena kadang terasa terlalu panjang untuk anak.
Bisa saja hanya tiga atau empat poin.

Mungkin anak akan bertanya tentang maksud dari kalimat-kalimat tersebut atau malah dapat menyimpulkan sendiri. Misalkan dengan mengatakan, “Ya Bunda. Jadi, kita tak perlu takut hantu ya, kan ada Allah menemani.”

Memang diperlukan atmosfer harian yang kental agar kalimat-kalimat yang kita bisikkan tersebut tergambar kemudian tertanam dengan kuat dalam benaknya. Lagi-lagi memang mendidik anak tak lain adalah mendidik diri kita sendiri, orangtuanya. Membesarkan mereka tak lain adalah membesarkan jiwa dan batin kita sendiri. Semoga kita mampu mewujudkan kalimat-kalimat tersebut dalam hari-hari kita sehingga anak-anakpun mendapat bisikan cinya yang nyata. Aamiin Allahumma aamiin.

(esqiel/muslimahzone.com)
Dalam sebuah buku yang berjudul “Child Psychiatry “, termuat hasil penelitian terhadap sejumlah anak yang mengalami kesulitan dalam belajar di sekolah, juga mengalami kesulitan dengan teman-temannya dalam pergaulan. Salah satu kasus seorang anak memperlihatkan ekspresi wajah kurang gembira. Ia terlihat lebih banyak murung dan menyendiri. Ia lamban sekali menjawab pertanyaan. Angka-angka yang dicapainya di sekolah kurang dari cukup. Ibu anak itu sedih dengan keadaan anaknya yang demikian.

Dari ibu anak itu diperoleh beberapa keterangan. Keterangan pertama adalah bahwa anak itu ternyata belum cukup umur ketika dimasukkan sekolah. Sebenarnya hal tersebut tidak terlalu menentukan. Keterangan kedua ialah bahwa ayah itu adalah seorang lelaki bertipe kasar, sering marah-marah, terlalu galak terhadap istri dan anaknya. Bersikap kasar, sering dia perlihatkan terhadap si anak. Akibatnya anak itu sering merasa tegang di bawah ancaman dan sikap kasar ayahnya. Situasi inilah kemudian menyebabkan perilakunya di sekolah menjurus kurang normal. Ia suka menyendiri. Terhadap guru lelaki, terutama yang mirip dengan ayahnya, ia merasa takut. Melihat lelaki dengan profil seperti ayahnya membuat ambang bawah sadarnya teringat akan figur ayah berikut kekejamannya.

Kasus lain adalah seorang guru yang sering kesal melihat kenakalan seorang anak lelaki berusia enam tahun. Ia sulit diatur. Berkali-kali guru memperingatkannya agar tenang dan tidak menganggu teman-temannya. Tetapi ia tidak memperdulikannya. Sering ia merebut dan memakan bekal makanan teman-temanya, memperlakukan teman-temanya sebagai pesuruhnya dan berbagai sikap lain yang menjengkelkan yang kadang-kadang berakhir dengan perkelahian. Setelah diselidiki, ternyata kedua orangtuanya memperlakukan anak itu dengan sikap manja berlebihan. Orang tua mendidik si anak dirumah dengan cara memenuhi segala keinginannya. Mereka kurang menyadari bahwa dampak negatif cara mendidik yang keliru di rumah, menyebabkan perilaku si anak di sekolah sangat menjengkelkan guru, maupun teman-temannya.

Ahli psikologis dan ahli pendidikan hampir sependapat, bahwa sikap dan cara orang tua mendidik anak di rumah, mempengaruhi perilakunya di sekolah. Anak yang ada di rumah memperoleh pendidikan yang tepat dan benar serta baik, umumnya akan memperlihatkan sikap dan perilaku yang normal di sekolahnya. Ia dapat bergaul baik dengan temannya. Ia mungkin bukanlah murid yang menarik bagi temannya, tetapi setidak-tidaknya, kehadirannya di lingkungan sekolah tidak menjengkelkan. Cara mendidik anak yang tidak edukatif, dapat menimbulkan dampak negatif, antara lain termanifestasi di dalam pergaulan anak di sekolahnya. Sebuah nasehat bijak dalam hal ini ialah. “Jika Anda tidak ingin anak anda mengalami kesulitan dan hambatan di lingkungan sekolahnya, berikanlah mereka pendidikan yang tepat di rumah.”

Cuplikan cerita diatas dengan jelas menyatakan bahwa ada kaitannya perilaku anak di luar rumah (dalam hal ini sekolah) dengan pola asuh di rumah.  Pola asuh anak di rumah oleh orangtua mereka atau pun oleh keluarganya, sangat menentukan kepribadian anak.  Jauh sebelumnya Rasulullah SAW menyatakan bahwa: “Anak-anak itu dilahirkan dalam keadaan suci bersih, kedua orangtuanya lah yang menjadikan mereka Majusi, Yahudi, atau Nasrani”. Statemen rasul ini bertemu faktanya yang salah satunya adalah petikan cerita diatas.  Orang sekarang seolah melihat fakta baru bahwa ada keterkaitan antara pola asuh di rumah dengan perilaku anak diluar rumah.  Dalam pembahasan psikologi, melalui penelitian seperti diatas, baru ditemukan kaitannya.  Tetapi Islam, melalui lisan Rasulnya telah memberitakan itu jauh sebelum ilmu psikologi itu ada.  Oleh sebab itu,kita sebagai orangtua harus sangat hati-hati dalam merencanakan dan melakukan pendidikan dan pengasuhan anak di rumah.  Karena rumah khususnya ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.  “Al-ummu madrosatul aula”.

Adapun terkait anggapan bahwa perangai orangtua (apakah baik ataupun buruk) bisa diwariskan pada anak-anak, atau dengan kata lain perangai/sifat itu merupakan gen yang bisa diturunkan adalah pernyataan yang tidak benar.

Pertama, secara faktual ada kisah dalam sebuah majalah, seorang ayah yang mencari nafkah keluarganya dengan cara mencopet dan menjambret.  Istri dan anak-anaknya tidak mengetahui bahwa suami atau ayah mereka berprofesi seperti itu.  Mereka akhirnya tahu setelah anak-anak dewasa dan mereka bersekolah bahkan ada yang sampai mengecap bangku perguruan tinggi.  Ini menunjukkan bahwa perilaku orangtua bukan sifat yang bisa diwariskan.

Kedua, lain halnya bila ayah mengajak anaknya untuk melakukan hal serupa.  Hingga anak-anaknya mempunyai profesi yang sama dengan ayahnya.  Ini bukan persoalan gen tetapi merupakan pemikiran/pemahaman keliru yang diwariskan pada anak-anaknya.  Lain hal dengan kondisi pertama dia tahu bahwa mencuri itu tidak benar, tetapi ia sangat ingin anak-anaknya sukses dan tidak mengikuti sepak terjang ayahnya.

Ketiga, Islam melarang perbuatan jahat, bila seseorang melakukan kejahatan itu disebabkan ia tidak tahu bahwa Islam melarangnya (jadi ini faktor kebodohan/jahil), atau ia tahu itu perbuatan jahat tetapi ia lalai untuk terikat dengan aturan karena lemahnya kesadaran, atau karena ia kalah melawan godaan syaithan.  Jadi seseorang melakukan kejahatan bukan karena keturunan atau sifat yang diwariskan.

Ada lagi ungkapan lain bahwa buah itu tidak jatuh jauh dari pohonnya. Ungkapan ini banyak dipakai dalam khasanah pendidikan orangtua.Ungkapan para orangtua dulu boleh jadi ada benarnya, bahwa bisa saja anak itu mempunyai perilaku yang tidak berbeda jauh dengan orangtuanya.  Jika orangtuanya baik, anaknya tentu akan baik.  Jika orangtua buruk perangainya, maka anaknya juga tidak akan jauh berbeda.  Boleh jadi ungkapan ini dipengaruhi oleh pemahaman mereka terhadap Islam.  Yaitu bahwa orangtua yang baik akan mengajari anak-anak mereka dengan kebaikan.  Sebaliknya, orangtua yang buruk tentu akan memberi contoh buruk kepada anak mereka dan ini akan mempengaruhi perilaku anak.  Hanya saja ini bukan masalah faktor genetis atau bukan.  Melainkan masalah pola pengasuhan anak terhadap anak-anak mereka.  Untuk ini diperlukan kesadaran yang tinggi pada orangtua tentang pendidikan dan pengasuhan anak.

Dalam konsep perbuatan manusia, Islam menjelaskan bahwa ada imbalan untuk perbuatan baik dan ada balasan untuk perbuatan yang buruk. Perbuatan baik akan mendapat pahala dan kemudian nanti mereka berhak untuk tinggal di surga sebagai tempat kembali yang terbaik.  Sedangkan perbuatan yang buruk akan dibalas dengan siksa dan bila tidak segera bertaubat, pelakunya akan masuk ke neraka.  Begitupun dalam proses pendidikan anak, Islam mengenalkan bagaimana pendidik harus memberi reward (pujian, imbalan, penghargaan) dan juga punishment (kritikan, sanksi) kepada anak didik sesuai jenis perbuatannya.  Pendekatan ini merupakan pendekatan kealamiahan yang sesuai dengan karakteristik manusia.

Jadi, berilah anak-anak itu kabar gembira dan peringatan.  Untuk apa? Tentu kabar gembira dapat menjadi motivasi bagi mereka untuk selalu mengerjakan kebaikan.  Dan peringatan tentu saja agar mereka menghindari perbuatan yang tidak baik.  Pemberian pujian dan teguran tentu saja menyesuaikan dengan usia anak.  Sebelum nalar atau daya cerna informasinya jalan, mereka dominan dengan isyarat atau visualisasi yang menunjukkan pujian atau celaan.  Maksudnya adalah, jangan sampai anak tidak bisa membedakan antara marah dan tidaknya orangtua.  Karena orangtuanya tidak pernah marah, akhirnya dia tidak tahu mana perbuatan dia yang baik dan mana yang tidak.  Begitupula bila orangtua lebih dominan marah, maka anak tidak tahu sebenarnya perbuatan seperti apa yang disebut baik itu.  Baik dan buruk seperti tidak ada bedanya.  Padahal pada masa itulah si anak menerima pembelajaran tentang baik buruknya suatu perbuatan.

Bagaimana orangtua mengenalkan nilai-nilai perbuatan itu baik atau buruk yang paling mendasar adalah orangtua mempunyai visi dalam mendidik anak.  Kemudian visi ini akan diwujudkan dengan strategi yang tepat.

Pertama, tentu dengan contoh (uswah), orangtua harus melakukan perbuatan baik yang diperintahkan Allah SWT.  Orangtua melakukan hal ini dengan tujuan mengajari anak untuk melakukan hal tersebut.  Jangan sesekali melakukan perbuatan yang dilarang tanpa disertai pembetulan atau ralat, saat anak kita mengingatkan.  Bila kita terlanjur melakukan perbuatan tidak baik di depan anak-anak, jangan tunda waktu untuk segera menjelaskan dan memberi pengertian serta meminta maaf.  Walhasil, pendekatan dengan contoh ini memerlukan kesadaran yang ekstra.

Kedua, dengan pembiasaan.  Biasakan kita menentukan objektif dalam segala hal yang terkait pendidikan dan pengasuhan anak.  Objektif tertinggi orangtua adalah menghendaki anaknya menjadi anak sholih, taat pada Allah dan Rasulnya, berbakti pada orangtua dan berguna bagi umat. Untuk menuju kesana tentunya melewati berbagai tahapan.  Setiap tahapan tentunya mempunyai rincian apa yang hendak dilakukan.  Untuk itu objektif nya pun berlainan dalam setiap tahapan.  Seperti bagaimana agar anak menjadi anak yang berbakti pada orangtua.  Gambaran anak berbakti harus dimiliki oleh orangtua, kemudian dia menentukan cara supaya anaknya bisa seperti itu.  Ada tahapan yang dilalui dan setiap tahapan mempunyai target sendiri-sendiri. Contoh, bagaimana agar anak mandiri dalam mengurusi keperluan sekolahnya, mulai dari membereskan buku, menyiapkan pakaian seragam sekolahnya, dsb.  Targetnya anak mandiri dan disiplin terhadap tugasnya.  Secara teknis orangtua akan membuatkan jadwal kegiatan anak sehari-hari, mulai dari bangun pagi hingga malam menjelang istirahat.  Sepanjang waktu itu apa saja yang akan dikerjakan anak, dan apa yang menjadi target dari aktivitas tersebut.  Tentunya semua ini memerlukan kesungguhan dan kesabaran dari pihak orangtua.  Karena yang akan kita bentuk adalah pola hidup atau kebiasaan.

Ketiga, pendekatan persahabatan.  Senantiasa mengkomunikasikan apapun yang menjadi harapan dan keinginan orangtua. Gambarkan filosofis (dasar) dari sebuah perbuatan yang dituntun oleh syariah Islam.

Narasumber: Ir. Ratu Erma Rahmayanti, mediaislamnet.com
Sebenarnya mendidik anak hidup Islami dan membentengi mereka dari kesesatan, tidak sulit mencarinya dalam Al-Qur’an. Prinsip-prinsip pendidikan anak yang Islami sangat jelas disampaikan dalam kisah Luqman al-Hakim berikut ini:

1. Aqidah Yang Kuat

(وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Bahasan yang paling awal dididikkan kepada anak adalah tentang keyakinan kepada Allah, Al-Ahad. Itulah pondasi pendidikan yang pertama dan utama ditanamkan dalam pikiran anak-anak. Sembahlah Allah saja, dan jangan menyekutukannya dengan apa atau siapa pun, di mana pun dan kapan pun!

2. Kesadaran akan pengawasan Allah ‘azza wa jalla
Pada kesempatan berikutnya, setelah iman tertanam kuat di dada, Luqman berkata,

(يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (16

(Luqman berkata), “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.” (QS. Luqman: 16)
Di sini anak dididik sadar akan pengawasan dan hukum Allah. Betapa kebaikan dan keburukan yang diperbuat akan selalu diketahui-Nya, dan diberi balasan yang benar-benar setimpal oleh Allah ta’ala. Lathiifun, Maha Halus pengetahuan-Nya, sehingga segala sesuatu tiada yang tersembunyi betapa pun lembut dan halusnya. Khabiirun, Maha Mengetahui langkah-langkah semut sekecil apa pun yang ada di kegelapan malam yang sangat pekat. (Ibnu Katsir jilid III: 1990: 428-429).

3. Shalat, amar ma’ruf nahi mungkar, dan sabar

Aqidah yang kokoh dan kesadaran akan pengawasan Allah perlu dibuktikan dengan perbuatan. Maka Luqman menuntun putranya kepada amal saleh atau kebaikan yang harus dilakukan. Di ayat ke-17 Luqman menasihati putranya:

(يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)
Luqman menghasung putranya untuk melaksanakan shalat, berdakwah dan bersabar, sebagai tanda bakti dan bukti kesetiaan hamba kepada Penciptanya.

4. Tidak sombong

Seseorang tidak akan mampu hidup sendiri di dunia ini. Ia bersama triliunan makhluk Allah lainnya hidup bersama di jagat raya ini dan saling tergantung satu dengan lainnya. Karenanya tak ada satu makhluk pun yang patut membanggakan diri di hadapan makhluk lainnya. Inilah yang menjadi pokok nasihat Luqman berikutnya.

(وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

5. Sederhana

(وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS.Luqman: 19)
Di bagian akhir nasihat Luqman kepada anaknya adalah hasungan untuk bertindak-tanduk dan bertutur kata yang sopan dan sederhana. Mengapa sikap tersebut demikian penting?

Tidak lain karena sikap sederhana menghindarkan manusia dari iri dengki yang membawa permusuhan. Bukankah banyak permasalahan hidup yang timbul gara-gara dipicu sikap atau tutur-kata yang berlebih-lebihan dan menyakitkan?

Apa yang diajarkan Luqman al-Hakim kepada putranya tampak jauh lebih sederhana dalam ukuran kita saat ini. Tetapi dalam kesederhanaan itu terdapat makna yang dalam, yang menjadi inti kepribadian muslim. Iman, sadar, shalat, amar makruf nahi mungkar, sabar, rendah hati, dan sederhana. Mari kita terapkan pada diri sendiri, kita tanamkan pada jiwa anak-anak dan keluarga tercinta, dan kita sebarkan pada lingkungan sekitar. Insya Allah negeri ini akan menjadi lebih Islami dan diberkahi Allah Subhaanahu wa ta’aala.

(esqiel/kiblat.net/muslimahzone.com)

Total Tayangan Laman

Dzikir Asma'ul Husna

Produk-Produk yg menghina Islam

Misteri Nabi Khidir AS

INFO - INFO

Menyambut Kedatangan Imam Mahdi

Job & Career

Popular Posts