Showing posts with label Kajian. Show all posts
Showing posts with label Kajian. Show all posts
Rasulullah sudah memberikan informasinya melalui hadits-hadits shahih, para ulama kemudian mengajarkannya hingga sampai kepada kita. Beberapa amalan sebelum tidur menurut rasulullah yang bisa dilakukan oleh kita antara lain:

1. Sebelum tidur Biasakan Berwudhu

Hendaknya tidur dalam keadaan sudah berwudhu, sebagaimana hadits: “Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan sholat.” (HR. Al-Bukhari No. 247 dan Muslim No. 2710)

2. Mengambil Posisi Berbaring Yang Tepat Hindari Tidur Tengkurap

Rasulullah menjelaskan posisi tidur yang tepat, “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710). Dalam riwayat lain, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya.” (HR. Abu Dawud no. 5045, At Tirmidzi No. 3395, Ibnu Majah No. 3877 dan Ibnu Hibban No. 2350)

Rasulullah telah melarang tidur tengkurap. Sebagaimana Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang dimurkai Allah Azza Wa Jalla.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang shohih)

3. Bersihkan Terlebih Dahulu Tempat Pembaringan Kita

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengibaskan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya…”. Pada hadist lain disebutkan kibasannya tiga kali (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Tidur Sesegera Mungkin Setelah Isya

Tentunya apabila setelah isya ada hal bermanfaat yang dibolehkan menurut syariat, boleh tetap menunda tidur agak malam. Akan tetapi ada hadist yang menyatakan bahwa “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘allaihi wasallam membenci tidur malam sebelum (sholat Isya) dan berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setelahnya.” [Hadist Riwayat Al-Bukhari No. 568 dan Muslim No. 647 (235)]

Hikmahnya tentu saja akan memudahkan kita bangun untuk qiyamul lail dengan izin Allah. Ketika kita tidur terlalu larut, maka akan membuat kita berat melakukan amal ketaatan ketika disepertiga malam akhir.

5. Membaca Dzikir Dzikir Sebelum Tidur

Ada banyak dzikir yang bisa diamalkan oleh seseorang sebelum berangkat tidur, salah satunya dzikir berikut:

اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيَ

إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا

مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ

Allahumma aslamtu nafsii ilaik, wa fawwadh-tu amrii ilaik, wa wajjahtu wajhiya ilaik, wa alja’tu zhohrii ilaik, rogh-batan wa rohbatan ilaik, laa malja-a wa laa manjaa minka illa ilaik. Aamantu bikitaabikalladzi anzalta wa bi nabiyyikalladzi arsalta.

Terjemahnya kurang lebih, “Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepadaMu, aku menyerahkan urusanku kepadaMu, aku menghadapkan wajahku kepadaMu, aku menyandarkan punggungku kepadaMu, karena senang (mendapatkan rahmatMu) dan takut pada (siksaanMu, bila melakukan kesalahan). Tidak ada tempat perlindungan dan penyelamatan dari (ancaman)Mu, kecuali kepadaMu. Aku beriman pada kitab yang telah Engkau turunkan, dan (kebenaran) NabiMu yang telah Engkau utus.” Apabila Engkau meninggal dunia (di waktu tidur), maka kamu akan meninggal dunia dengan memegang fitrah (agama Islam)”.

Faedahnya jelas, yaitu: Jika seseorang membaca dzikir di atas ketika hendak tidur lalu ia mati, maka ia mati di atas fithrah (mati di atas Islam). (HR. Al-Bukhari no. 6313 dan Muslim no. 2710.)

Bacaan dzikir lainnya yang bagus diamalkan sebelum tidur yaitu:

Membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas. Caranya, baca surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas satu kali lalu ditiupkan ke telapak tangan. Pergunakan telapak tangan tersebut guna mengusap seluruh tubuh dari wajah, tangan, kaki sampai area area yang bisa dijangkau. Selepas mengusap, baca lagi surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas lalu usapkan hingga total 3 x. (HR. Al-Bukhari no. 5017 dan Muslim no. 2192, Malik dalam al-Muwaththa’, Abu Dawud no. 3902, at-Tirmidzi no. 3402, Ibnu Majah no. 3529, dan an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 793).
Membaca Ayat Kursi alias Quran Surat Al Baqarah 255 sebanyak satu kali. (HR. Al-Bukhari no. 2311/ Fat-hul Baari V/487).
Dua ayat terakhir dari surat Al-Baqoroh,berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barangsiapa membaca dua ayat tersebut pada malam hari, maka dua ayat tersebut telah mencukupkan-nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Surat Al Kafirun,berdasarkan sebuah hadits yang mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sahabat Naufal untuk membaca surat Al Kafirun sebelum tidur (HR Abu Dawud, Ahmad, dan At Tirmidzi).
Surat Al Mulk dan As Sajdah, hal ini berdasarkan penjelasan sahabat Jabir bin Abdillah, beliau berkata, “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur sampai beliau membaca alif lam mim tanzilus sajdah (surat As Sajdah) dan Tabarokalladzi biyadihil mulk (surat Al Mulk)” (HR Bukhari).
6. Shalat witir Jika Khawatir Tak Bisa Bangun Malam

Jika khawatir tidak bisa qiyamul lail / bangun malam, di sunnahkan pula shalat witir terlebih dulu sebelum tidur. Dalilnya dari Abu Hurairah berkata,

أَوْصَانِى خَلِيلِى – صلى الله عليه وسلم – بِثَلاَثٍ صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ

مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى ، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

“Kekasihku yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepadaku tiga wasiat: (1) berpuasa tiga hari setiap bulannya, (2) mengerjakan dua rakaat shalat Dhuha, (3) mengerjakan witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari no. 1981)

7.Bacalah doa Sebelum tidur yang shahih dari Rasulullah

Satu hal yang paling utama, Baca doa sebelum tidur. Yang shahih ialah “Bismika allahumma amuutu wa ahyaa“. Dalilnya, dari Hudzaifah, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ « بِاسْمِكَ

اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا » . وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ

الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا ، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ »

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari no. 6324)

Itulah beberapa amalan sebelum tidur menurut Islam sesuai sunnah Rasulullah. Sebenarnya ada banyak lagi amalan amalan yang bisa dirujuk ke kitab kitab ulama. Salah satu yang tak kalah penting misalnya dengan memperbanyak istighfar serta muhasabah diri. Kita tak pernah tahu bisa jadi itu tidur terakhir kita, kita butuh banyak ampunan dari Allah sebagai bekal mengadap-Nya.

- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/amalan-sebelum-tidur-sesuai-sunnah-rasulullah.html#sthash.Sz8qRRdI.dpuf
Perbuatan dosa adalah sesuatu yang sudah seharusnya dihindari oleh setiap Muslim. Namun, ada kalanya manusia sulit untuk menghindar dari dosa yang sama. Dan jika itu dilakukan, bagaimanakah hukumnya, apakah Allah ta’ala akan menerima taubatnya?

Berikut pembahasan oleh Prof Madya Dr Mohd Asri bin Zainul Abidin terkait hal tersebut:

1. Secara umum taubat menggambarkan kekesalan dan kesadaran terhadap dosa yang dilakukan, lalu memohon keampunan Allah dan berazam untuk tidak mengulanginya lagi. Ini berdasarkan firman Allah yang artinya:

“Dan mereka yang apabila melakukan perbuatan keji, atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka – dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa melainkan Allah -, dan mereka juga tidak meneruskan (perbuatan buruk) yang mereka telah lakukan itu, sedang mereka mengetahui (akan kesalahannya dan akibatnya). Orang-orang yang demikian itu, balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka, dan syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya; dan yang demikian itulah sebaik-baik balasan (bagi) mereka yang beramal.” (Surah Ali ‘Imran: 135-136).

Maka, pada dasarnya taubat itu di samping kesadaran dan memohon ampunan, ia juga adalah niat kuat untuk tidak mengulanginya.

2. Keikhlasan atau kesungguhan seseorang yang bertaubat itu hanya diketahui oleh Allah dan dirinya sendiri. Ketika dia bertaubat, jika itu lahir dari keikhlasan maka perasaan khusyuk, duka, insaf, mengharapkan keampunan Allah akan menyelinap masuk ke dalam setiap relung jiwanya. Airmata keinsafan antara bukti kejujuran insan yang menyesal dan mengharapkan keampunan. Keinginan untuk berada dalam keampunan itu akan membawanya kepada azam untuk tidak mengulangi dosa. Jika taubat seperti itu berlaku, maka itu adalah taubat nasuha yang ikhlas. Ia diterima Allah.

Sekalipun kemungkinan setelah itu, atas kelemahan diri, hamba yang bartaubat tadi tergelincir sekali lagi ke dalam dosa yang sama. Jika, dia ikhlas pada taubatnya yang awal, Allah Maha Mengetahuinya dan insyaAllah akan mengampuni dosanya yang awal, juga dosa kemudian jika dia terus bertaubat lagi.

3. Taubat yang sebenarnya bukan satu perkara yang bisa dibuat-buat. Ia bukan sebuah candaan. Rasa kesadaran yang hadir dalam jiwa seorang hamba bukannya perkara yang diada-adakan. Ia adalah cahaya iman yang lahir dari kesucian jiwa yang mengakui kebesaran Allah dan takut akan dosa. Apabila perasaan itu ada, maka seorang hamba pun bertaubat dengan penuh insaf dan berani untuk tidak mengulangi. Siapakah yang mengetahui wujud perasaan itu dalam suatu jiwa? Sudah pasti hanya Allah dan manusia yang bertaubat itu sendiri. Jika keadaan yang disebutkan itu berlaku, manusia itu sebenarnya telah benar-benar bertaubat.

4. Manusia atau anak Adam itu ada kelemahannya. Kadang-kala dia terjatuh lagi dalam kesalahan setelah bertaubat dengan bersungguh-sungguh. Ini –seperti yang dijelaskan- kegelinciran kedua atau ketiga dan seterusnya tidaklah bererti dia tidak ikhlas dalam taubatnya yang sebelum itu. Namun, kelemahannya menyebabkan dia berulang kali jatuh ke dalam dosa, sekalipun telah benar-benar insaf sebelumnya. Maka, jika hal ini berlaku dia hendaklah mengulangi taubat dan jangan berputus asa. Syaitan akan membisikkan perasaan putus asa dalam jiwa, sedangkan Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penerima taubat.

5. Hal ini dijelaskan oleh Nabi s.a.w dalam hadits beliau:

“Seorang telah melakukan satu dosa, lalu dia berkata: Wahai Tuhanku ampunilah dosaku. Lalu Allah azza wa jalla berfirman: Hamba-Ku melakukan dosa dan dia mengetahui bahwa baginya Tuhan yang bisa mengampuni dan menghukumnya –dalam riwayat yang lain ditambah: Aku ampunkan dosanya-. Kemudian dia kembali melakukan dosa yang lain, dia berkata: Wahai Tuhanku aku telah melakukan dosa ampunilah dosaku. Lalu Allah berfirman: Hamba-Ku melakukan dosa dan dia mengetahui bahwa baginya Tuhan yang bisa mengampuni dan menghukumnya–dalam riwayat yang lain ditambah: aku ampunkan dosanya-. Lalu dia melakukan dosa sekali lagi, dia berkata: wahai Tuhanku aku telah melakukan dosa ampunilah dosaku. Lalu Allah berfirman: Hamba-Ku melakukan dosa dan dia mengetahui bahwa baginya Tuhan yang bisa mengampuni dan menghukumnya, maka aku ampunkan hamba-Ku ini, lakukan apa yang kau mau Aku ampuni engkau”. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

6. Dari hadis di atas menggambarkan, selagi seseorang hamba Allah menyesal dan insaf, sekalipun telah berulang dosa, Allah Yang Maha Pengampun tetap mengampuninya. Namun, hendaklah kita berhati-hati karena waktu kematian tidak pasti. Orang yang bertaubat dan berhasil menjaga dirinya tentulah lebih baik dari yang gagal menjaga diri. Tidak mustahil ketika dia gagal menjaga diri itu, kematian menjemputnya.

7. Apapun, pintu taubat dalam Islam ini senatiasa terbuka. Seberapapun besarnya  dosa, berapa kali ia mengulanginya. Manusia jangan berputus asa dari rahmat Allah. Firman Allah yang artinya:

“Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri (dengan perbuatan-perbuatan maksiat), janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa; sesungguhnya Dia lah juga Yang Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” (Surah az-Zumar: 53).

Putus asa dari rahmat Allah adalah bisikan syaitan yang enggan melihat hamba-hamba Allah kembali kepada Allah.

8. Di antara cara untuk membuat kita istiqamah dengan taubat kita ialah memohon pertolongan Allah agar kita tetap di atas jalan hidayah. Al-Quran mengajarkan  kita doa yang artinya

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (Surah Ali ‘Imran: 8).

Nabi s.a.w pun selalu memperbanyak doa:

“Wahai Yang Membolak-balikkan hati (Allah)! Tetapkan aku atas agamu-Mu” (Riwayat al-Tirmizi, Ahmad, Ibn Abi ‘Asim- dinilai sahih).

9. Juga, di antara langkah menetapkan diri dalam kebaikan adalah dengan bersama dengan teman yang baik dan shalih. Teman yang baik dan mau mengajak pada kebaikan akan membawa kita terus dalam kebaikan. Begitupun sebaliknya. Firman Allah yang artinya:

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (Surah al-Kahfi: 28).

Hiduplah dalam lingkungan teman-teman yang selalu mengingatkan kepada kebenaran dan kesabaran.

10. Maka, ingatlah untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah, dan jangan kita membuat orang lain berputus asa dari rahmat Allah. Manusia mempunyai kesempatan bertaubat sebelum nyawa sampai di tenggorokan. Sabda Nabi:

“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selagi nyawa belum sampai ke tenggorokannya.” (Riwayat al-Tirmizi, dinilai hasan oleh al-Albani).

Demikianlah, teruslah bertaubat dan memperbaiki diri. Jangan berhenti berjuang dan selalu berusaha untuk jadi lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Wallahu’alam.

(fauziya/muslimahzone.com)
Ledakan beruntun terjadi di sekitar halaman parkir depan kafe Starbucks, Jalan Husni Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/1/2016) pagi ini. Pelaku teror meledakkan bahan peledak di perempatan dekat pusat perbelanjaan Sarinah di mana pihak kepolisian langsung melakukan pengejaran terhadap pelaku.

Sempat terjadi baku tembak di dekat Starbucks dan pos polisi Sarinah. Polisi pun menutup dan mensterilisasi kawasan itu. Jalan Thamrin hingga Bundaran Hotel Indonesia ditutup untuk dua arah.

Menanggapi teror yang dilaporkan menewaskan enam warga masyarakat ini, K. H. Muhammad Arifin Ilham menegaskan bahwa teror bukanlah ajaran Islam. Dalam tausiyah singkat yang disampaikan melalui akun Facebook-nya, Ustadz Arifin menekankan tuduhan bahwa Islam mengajarkan terorisme merupakan fitnah besar.

Berikut tausiyah lengkap Ustadz Arifin Ilham tersebut.

***

Assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barkatuh.

Astaghfirullah, kembali teror terjadi di Ibu Kota negeri kita tercinta. Yang jelas teror bukan ajaran Islam. Membunuh manusia, bunuh diri, membuat onar, menghancurkan bangunan dan membuat masyarakat resah, jelas bukan ajaran Islam yang damai mendamaikan, selamat dan menyelamatkan.

Kalaupun perang karena darurat, karena wajib membela kemuliaan Islam. Itupun berperang dengan adab dan akhlak Islam yang tinggi lagi mulia. Tidak boleh membunuh yang menyerah, apalagi yang tidak berperang. Tidak boleh merusak tempat ibadah yang berbeda keyakinan, merusak tanaman pohon.

Menuduh Islam mengajarkan terorisme adalah fitnah besar pada ajaran Islam yang mulia ini, kecuali memang rekayasi mereka yang benci Islam atau pemanfaatan orang awam diprovokasi dengan jualannya agama dalih (bukan dalil) untuk berjihad.

Ketahuilah, Islam itu Rahmatan lil Aalaamin, Islam itu penebar salam, Islam itu toleransi terhadap perbedaan keyakinan.

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.” (QS. Al-Anbiya: 107)

“Apabila kamu dihormati dengan suatu ucapan salam, maka balaslah salam itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)…” (QS. An-Nisa: 86).

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan oleh Allah.” (HR. Al-Bukhari)

Kita umat Islam sangat berduka dengan saudara-saudara kita yang telah wafat sebagai korban teror ini.

Semoga Allah mengampuni saudara-saudara Muslim kita yang wafat.

Semoga aparat kita dapat menangkap biang teror ini.

Semoga Allah selamatkan kita dan keluarga dari ajaran teror.

Semoga Allah selamatkan saudara-saudara kita di Afghanistan, Irak, Palestina, Suriah dan Yaman, dan seluruh kaum Muslimin.

Semoga Allah berkahi negeri kita dengan keberkahan, keamanan, kesejahteraan, ketaqwaan pemimpin dan rakyatnya.

Aamiin.

(banan/arrahmah.com)




Saat ini banyak orangtua yang ingin anaknya dapat membaca, menulis dan berhitung (calistung) sejak usia dini. Padahal, menurut para ahli hal itu dapat merusak tatanan otak anak. 

Seorang pakar tumbuh kembang anak dari Universitas Airlangga, DR Dr Ahmad Suryawan SpA(K), bahkan menghimbau kepada para orang tua untuk tidak mengajarkan calistung sebelum sang anak masuk ke Sekolah Dasar (SD) atau berumur tujuh tahun. 

Menurutnya, mengajarkan anak calistung sebelum waktunya dapat merusak tatanan otak anak, dalam artian anak dalam mengerjakan sesuatu tidak runtut atau selaras. Seharusnya anak yang berumur di bawah tujuh tahun bisa membentuk garis lurus, menggaris, membentuk gambar bangun sederhana dan sebagainya. Sayangnya, pada masyarakat modern saat ini, anak belum tentu bisa menggambar garis lurus malah sudah belajar menghitung. 

Anak memang bisa pintar karena bisa calistung sejak dini, tapi perilakunya tidak runtut dalam menyelesaikan suatu persoalan. Hal itu karena sirkuit di otaknya tidak ‘by order’. Anak akhirnya tidak mengerti urutan.

Terdapat dua kemungkinan bagi anak yang sudah dikenalkan calistung sejak dini. Pertama, bisa calistung karena mengerti caranya dan kedua, anak tersebut bisa karena menghapalkan caranya. 

Kemungkinan pertama bahwa anak mengerti caranya yaitu anak itu tahu kalau empat dikali empat sama dengan 16, kalau 16 itu didapat dari empat sebanyak empat kali. Adapun kemungkinan kedua, anak tersebut hapal kalau empat kali empat tersebut 16. 

Pandangan orang tua saat ini menjadi salah kaprah disebabkan oleh cara menilai prestasi anak yaitu melihat dari hal yang berbau matematika atau akademik dan melupakan prestasi nonakademik. Itulah sebabnya di sejumlah kota besar di Tanah Air marak muncul kursus les membaca yang diperuntukkan bagi anak-anak yang masuk dalam kategori Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). 

Sebenarnya Calistung boleh saja dikenalkan pada anak usia PAUD, tapi tidak boleh jadi evaluasi prestasi. Pengenalan Calistung Program yang tepat pada anak usia PAUD adalah melalui pengenalan calistung, namun hal itu bukan berarti anak belajar calistung sepenuhnya. 

Anak mengenal calistung melalui interaksi dan cara menyenangkan, bukan duduk manis mendengarkan guru mengajar. Contohnya ialah ada sepuluh anak, namun gelas yang ada hanya delapan, dengan demikian otomatis dua anak tidak mendapatkan gelas. 

Sebelum anak memegang pensil, maka anak harus belajar mencapit, setelah tangan anak tersebut kuat baru diberikan pensil yang ukurannya besar. Seperti halnya anak belajar berbicara juga seperti itu mulai ‘mama, mama pergi, baru kemudian mama, ayo pergi’. Jadi tahap demi tahap. Mungkin banyak dari orang tua kita zaman dahulu yang mendidik kita dengan cara yang lebih sistematis. Namun, orang tua sekarang, anak tidak bisa membaca saja marahnya seperti mau kiamat, padahal untuk membuat bayi tersenyum saja butuh berapa bulan kita seperti orang gila, baru kemudian bayi bisa tersenyum. 

Ini membuktikan bahwa ada yang salah dengan sistem pendidikan di Tanah Air, yang mensyaratkan calistung sebelum masuk SD. Hal itu akan membuat para orang tua khawatir dan akhirnya memasukkan anak ke les calistung sebelum anak tersebut masuk ke sekolah dasar. 

Sesungguhnya kualitas tumbuh kembang jangka panjang seorang anak ditentukan oleh keseimbangan faktor resiko dan faktor protektif sejak usia janin di dalam kandungan hingga usia 18 tahun. Maka menurut Psikolog anak Dr Rose Mini, anak usia PAUD seharusnya hanya bermain, karena dengan bermain anak bisa merasa senang. Aktivitas bermain yang dimaksud adalah bermain yang tanpa beban. Jangan memaksa anak bermain sesuatu dengan harapan anak tersebut bertambah pintar.



(fauziya/muslimahzone.com)

Selain ASI, banyak orangtua memberikan air putih kepada si kecil yang masih berusia 0-6 bulan. Entah seusai menyusui maupun di waktu-waktu lainnya. Padahal, kebiasaan itu sangat keliru karena berisiko menyebabkan berbagai dampak kesehatan. Berikut 4 bahaya bila bayi diberi air putih menurut penjelasan Dr. Utami Roesli, Sp.A., MBA., CIML, IBCLC, dari Sentra Laktasi Indonesia:



Infeksi bakteri



Pemberian air putih pada bayi 0–6 bulan berisiko membuat bayi terinfeksi bakteri jika air yang dipakai tercemar. Utami sendiri pernah mempunyai pengalaman, pasiennya yang berusia sekitar 1 bulan, ibunya melaporkan jika bayinya sering buang air besar hingga belasan bahkan puluhan kali dalam sehari. Ibunya mengira anaknya mencret karena penyakit, sehingga yang tadinya diberi ASI, kemudian diberikan juga air putih dan susu formula. Hasilnya bayi yang tadinya mencret normal justru pencernaannya terinfeksi bakteri.



Hal ini diketahui dari feses bayi yang mengandung darah. Kemungkinan besar, infeksi itu muncul karena asupan air putih yang diberikan ibunya. Apalagi jika perlengkapan minumnya tidak higienis, juga cara memasaknya tidak tepat dan sudah tercemar bakteri.



Ganggu otak bayi



Ginjal bayi 0-6 bulan belum berfungsi dengan baik, sehingga jika ia diberi air putih maka air seni akan membawa serta elektrolit dalam darah, misalnya natrium, yang sebenarnya berguna bagi tubuh. Jika kekurangan zat itu, bayi berisiko mengalami kejang. Semakin banyak elektrolit yang “terbuang”, semakin banyak risiko negatif yang dapat dialami. Alhasil, kalau bayi mengeluarkan banyak elektrolit dari semua organ tubuhnya, baik jantung, ginjal atau paru, temasuk otak, maka aktivitas otak dapat terganggu. Gejalanya, bisa berupa suhu tubuh rendah hingga kejang-kejang.



Merusak ginjal



Bahaya lain bila bayi diberi air putih yaitu merusak ginjal. Fungsi ginjal sebagai pengatur keseimbangan cairan di dalam tubuh belumlah sempurna pada bayi usia 0—6 bulan. Memang pada usia kehamilan 35 minggu, ginjal bayi sudah terbentuk, tapi belum berfungsi dengan baik. Begitu pun setelah bayi lahir. Walau bentuk ginjal sudah sempurna. Hal ini bertahan hingga usia bayi 6 bulan.



Lain halnya pada anak dan orang dewasa, ginjal sudah mengatur asupan cairan masuk dengan yang dikeluarkan. Misal, kalau banyak minum, ginjal akan mengatur sehingga berkemihnya sering. Atau pada saat hawa dingin, akan lebih sering buang air kecil. Sebaliknya, pada cuaca panas, kita cenderung lebih jarang buang air kecil.



Intinya, ginjal mengatur keseimbangan cairan/elektrolit dalam tubuh, semisal natrium, kalsium, dan lainnya. Tapi jika kejadiannya saat ginjal belum sempurna kerjanya sudah diberi air putih, tubuh bayi akan kelebihan air atau “keracunan” air. Karena air yang masuk tidak bisa diseimbangkan dengan yang dikeluarkan.



Keracunan



Memang benar bayi harus cukup minum, tapi bukan minum air putih lo. Sebab bayi usia 6 bulan ke bawah minum air putih justru akan merugikan si bayi itu sendiri. Secara naluriah bayi memiliki refleks haus atau keinginan untuk minum. Karena itu, banyak orangtua yang memberikan bayinya tambahan air putih selain ASI. Padahal, ginjal si kecil belum berfungsi dengan baik. Akibatnya, air putih yang diminumnya itu dapat membuat tubuhnya melepaskan sodium (mineral yang dibutuhkan untuk proses metabolisme tubuh).



Padahal, kehilangan sodium dapat memengaruhi aktivitas otak. Ujung-ujungnya, bayi akan mengalami gejala keracunan, di antaranya suhu tubuh rendah, wajah membengkak dan bahkan kejang-kejang. Karena itu, bayi yang minum ASI tidak perlu mengonsumsi air putih. Untuk bayi 0—6 bulan cukup ASI.



Sumber: Tabloid Nakita

 Tugas Mendidik Generasi Unggulan
Pendidikan merupakan unsur terpenting dalam proses perubahan dan pertumbuhan manusia. Perubahan dan pertumbuhan kepada yang lebih baik membutuhkan pendidikan yang “baik” pula. Pendidikan yang “baik” akan menghasilkan “output” yang baik. Untuk misi membangun Umat Islam, salah satu tugas yang diemban oleh Rasulullah saw adalah ta’lim (mendidik).Firman Allah berbunyi: “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah)”. (QS. Al Jumu’ah: 2).
Dari pendidikan yang dilakukan Rasulullah Saw. lahir pribadi-pribadi unggul sebagai output, yang kemudian pada akhirnya membentuk peradaban unggul ketika itu.
Umat Islam diproyeksikan untuk menjadi pemimpin peradaban. Sebagai Umat yang menebar kebaikan bagi sekalian alam. Sebuah misi yang tidak ringan dan membutuhkan pribadi-pribadi unggulan. "Kalian adalah Umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. Ali Imran: 110).
Upaya untuk menghasilkan pribadi-pribadi Muslim unggulan merupakan tanggungjawab kita semua sebagai Umat Islam. Merupakan tanggungjawab setiap pihak, apakah lembaga pendidikan, keluarga orang tua, sosial, dan seterusnya.
Orang tua adalah pihak yang paling berperan dan bertanggungjawab dalam pendidikan anak-anak mereka agar menjadi pribadi-pribadi unggul. Anak yang saleh akan menjadi amal jariah bagi kedua orang tuanya. Betapa besar pahala yang diraih lantaran kesalehan atau bahkan kontribusi anak bagi masyarakat dan agamanya yang juga akan berbuah pahala bagi kedua orang tuanya.
Realitanya, seringkali terdapat berbagai kendala dalam upaya pendidikan anak. Mulai dari kendala finansial, kendala lingkungan sosial atau bahkan kendala keluarga. Diantara kendala yang bisa merusak pendidikan anak adalah kendala lingkungan dalam berbagai bentuknya. Di era informasi ini siapapun dengan sangat mudah untuk mengakses informasi lewat berbagai sarana. Media cetak dan elektronik sedemikian menggurita. Media bisa lebih efektif dan berhasil dalam mendidik anak-anak kita, baik pendidikan positif ataupun sebaliknya. Media mendidik cara berfikir, gaya hidup, cara bergaul dan seterusnya.
Permasalahannya adalah jika anak-anak kita dididik oleh media dengan berbagai materi negatif dan destruktif. Mengarahkan pemikiran, gaya hidup dan seterusnya ke arah negatif dan menyimpang dari Islam. Media merupakan salah satu sarana perang pemikiran (alghazwu alfikry) musuh-musuh Islam untuk melumpuhkan Umat ini. Dan sarana ini efektif bagi mereka.
Lingkungan yang berarti teman dan komunitas bergaul juga bisa mempengaruhi pendidikan anak kita. Rasulullah Saw menjadikan sahabat sebagai pihak yang bisa mempengaruhi moral dan kebiasaan seseorang. Sabdanya berbunyi: “Seseorang itu tergantung kepada kebiasaan cara hidup dan akhlak sahabatnya, maka setiap kalian perhatikanlah siapa teman yang digaulinya”. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Persahabatan dan pergaulan bisa mempengaruhi seseorang sebagaimana pepatah Arab: Siapa yang berteman dengan tukang minyak wangi Ia bisa mendapatkannya cuma-cuma, dan siapa berteman dengan tukang besi, ia akan kecipratan baunya.

Keteladanan Pendidikan Anak
Ismail seorang anak yang menjadi tauladan sepanjang sejarah dalam ketaatan kepada Allah SWT dan orang tua. Kisah yang sangat masyhur, ketika Ibrahim as. sang bapak, bermaksud menyembelihnya atas perintah Allah SWT, ia merespon dengan jawaban kesiapan dan ketaatannya. Begitulah ketaatan dan kesalehan Ismail menjadi bukti bermutunya pendidikan yang diberikan sang ayah, Ibrahim as. Metode pendidikan ala Ibrahim dirumuskan dalam sebuah doa yang beliau ucapkan ketika akan meningalkan istri dan anaknya di lembah yang tandus. Beliau as berdoa kepada Allah SWT: “Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim: 37).
Ada beberapa nilai luhur yang bisa kita gali dari firman Allah SWT lewat lisan Nabi Ibrahim as. terkait persepsi dalam mendidik anak.
Pertama, Nabi Ibrahim tahu betul bahwa beliau meninggalkan anak dan istrinya di lembah yang tandus tanpa makanan. Dalam kondisi tersebut, permohonan yang pertama kali diminta menurut logika umum adalah agar mereka dianugerahkan rizki yang bisa membuat mereka tetap hidup. Namun permohonan pertama yang diminta Nabi Ibrahim as adalah agar mereka mendirikan shalat. Dan orang yang mendirikan shalat dengan sebebnarnya adalah orang bertaqwa yang telah dijamin Allah SWT.“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. (QS. Athalaq: 2-3).
Sama halnya, ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz dinasehati agar mengumpulkan hartanya dalam masa yang cukup untuk diberikan kepada anak-keturunannya. Umar menolak nasehat itu dan berkata: “Jika seandaninya mereka (anak cucuku) adalah orang yang bertakwa, maka sesungguhnya Allah SWT yang akan menanggung rizkinya., dan jika mereka orang-orang yang fasik maka aku tidak akan membantu mereka dalam kefasikannya dengan harta yang aku wariskan“.
Kedua, permohonan Ibrahim as selanjutnya juga bukan berupa rezeki yang berbentuk materi, namun beliau memohon agar anak, istri serta cucu-cucu beliau kelak menjadi orang yang dicintai manusia. Permohonan yang begitu mulia, dan permohonan mulia seperti itu hanya bisa dicapai dengan akhlak yang mulia. Akhlak yang menentukan seseorang dibenci atau dicintai.
Ketiga, pada petikan doa yang terakhir Nabi Ibrahim memohon rezeki dalam bentuk materi. “beri rezekilah mereka dari buah-buahan agar mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim: 37). Namun permohonan ini tidak untuk tujuan mereka kaya materi, tetapi lebih daripada itu agar mereka mampu bersyukur. Bukan kekayaan yang menyebabkan mereka lupa dan kufur.
Dari pendidikan Ibrahim as bisa dipahami bahwa orientasi dalam pendidikan anak bukan semata karena materi yang akan diraih. Bukan karena “akan kerja dimana setelah lulus”, atau “dapat posisi apa nanti”. Maka dalam orientasi pendidikan anak perlu keseimbangan antara aspek ilmu pengetahuan dan akhlak.
Pendidikan yang pertama kali diberikan kepada anak adalah pendidikan akidah, ibadah dan akhlak. Pendidikan ini menurut imam Gazali hukumnya fardhu ‘ain, setiap Muslim harus menadpatkannya. Adapun pendidikan yang bersifat skill dan ketrampilan Duniawi yang selanjutnya berbentuk profesi seperti dokter, insinyur dan sebagainya hukumnya fardhu kifayah. Seorang Muslim boleh berprofesi apa saja, namun ia harus terlebih dahulu menjadi Muslim yang sebenarnya, yang memiliki akidah, ibadah dan akhlak yang baik dan tidak menyimpang adri ajaran Islam.

Pendidikan yang Integral
Pendidikan manusia sejatinya bersifat integral. Tidak ada terjadi ketimpangan antara satu aspek dengan yang lainnya. Kita pernah mengenal konsep IMTAK dan IPTEK yang merupakan sebuah upaya integrasi untuk menghasilkan SDM unggulan. Unggul secara moral spiritual maupun sains dan teknologi. Keterpaduan dalam pendidikan seperti ini bila berjalan dengan baik akan mampu menghasilkan orang-orang pintar yang baik, atau orang-orang baik yang pintar. Dua tipe inilah yang diharapkan mampu menebar rahmat kebaikan. Dan dua tipe ini secara tersirat adalah harapan dalam doa yang seringkali kita baca: “Ya Allah karuniakanlah kami kebaikan baik di Dunia maupun di Akhirat”.
Mendapat kebaikan di Dunia dengan kepintaran, dan mendapat kebaikan di Akhirat dengan ketakwaan.Banyak orang pintar yang tidak baik atau orang baik yang tidak pintar. Dua tipe ini sulit diharapkan untuk bisa menebar kebaikan dan manfaat bagi sesama, bahkan malah bisa berpotensi menjadi masalah(trouble maker). Orang pintar yang tidak baik bisa berpotensi merugikan orang lain. Sederet contoh kasus dalam hal ini, kasus para pejabat korup, kebohongan publik, mafia dan seterusnya. Adapun tipe orang baik yang tidak pintar dan tidak paham, berpotensi dimanfaatkan, dirugikan, atau bahkan dianiaya pihak lain. Wallahu a’lam. ( Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA /  IKADI )
Ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang tanda-tanda kiamat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dua tanda.

أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِى الْبُنْيَانِ

“Jika budak wanita telah melahirkan tuannya serta kalian melihat orang yang bertelanjang kaki dan tak memakai baju yakni para penggembala kambing berlomba-lomba meninggikan bangunan” (HR. Muslim)

Makna budak yang melahirkan tuannya telah kita bahas pada tulisan sebelumnya.

Lalu siapakah yang dimaksud dengan “orang tak beralas kaki berlomba meninggikan bangunan?”

Ada empat kata yang dipakai dalam hadits tersebut tentang siapa yang berlomba-lomba meninggikan bangunan. Syaikh Musthafa Dieb Al Bugha dan Syaikh Muhyidin Mistu dalam Al Wafi menjelaskan sebagai berikut:
الْحُفَاةَ merupakan bentuk jama’ dari حَافِyang artinya “orang-orang yang tidak memakai alas kaki”
الْعُرَاةَ merupakan bentuk jama’ dari عَار yaitu orang-orang yang tidak memakai baju
الْعَالَةَ merupakan bentuk jama’ dari عَيْل yaitu orang-orang fakir
رِعَاءَ الشَّاءِartinya para penggembala kambing

Jadi, di antara tanda kiamat itu adalah ketika kaum yang biasanya menggembala kambing, tidak beralas kaki, tidak memakai baju dan miskin berlomba-lomba meninggikan bangunan.

Pertanyaan yang biasanya muncul adalah, bagaimana mungkin para penggembala kambing yang miskin bisa membangun gedung yang tinggi? Jika dipahami secara sempit bahwa orang yang membangun gedung tinggi adalah orang yang pernah menggembala kambing tanpa alas kaki dan tanpa baju, memang agaknya sulit. Bagaimana mungkin seseorang dari miskin tiba-tiba menjadi kaya raya dan membangun gedung tinggi.

Namun, jika melihat hadits yang lain kita jadi punya persepsi baru bahwa yang dimaksud bukanlah orang per orang melainkan sebuah kaum. Kaum yang dulunya suka menggembala kambing tanpa alas kaki dan tanpa baju.

Abu Fatiah Al Adnani dalam buku Petaka Akhir Zaman mengutip hadits riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Abbas dengan isnad shahih bahwa Rasulullah ditanya tentang siapakah yang dimaksud dengan penggembala kambing yang tidak beralas kaki, tidak memakai baju dan miskin itu. Lalu beliau bersabda, “Orang-orang Arab.”

Orang-orang Arab. Ya, dulunya banyak dari mereka yang menggembala kambing tanpa alas kaki dan bertelanjang dada. Namun sekarang, Arab yang dulunya adalah padang pasir gersang kini berubah dipenuhi gedung-gedung pencakar langit.

Lihatlah. Tiga di antara lima gedung tertinggi di dunia kini berada di Arab. Dubai Towers tingginya 445 meter merupakan gedung tertinggi kelima di dunia. Burj Khalifa tingginya 820 meter merupakan gedung tertinggi kedua di dunia. Dan gedung tertinggi pertama akan dibangun di Jeddah dengan ketinggian 1 Km. Namanya The Kingdom Tower. Mereka benar-benar berlomba-lomba meninggikan bangunan.

Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sekaligus memberikan pertanyaan serius kepada kita: apa yang telah kita persiapkan menghadapi kiamat, setidaknya, kematian?

Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/Bersamadakwah]
Berbahagialah orang-orang beriman yang senantiasa beramal shalih dan saling nasih-menasihati dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang. Itulah jaminan keselamatan yang disampaikan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya yang mulia.

Perbaiki hubunganmu dengan Allah, maka Dia akan memperbaiki hubunganmu dengan semua manusia.

Kita hidup sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan lainnya. Mustahil bagi seorang makhluk bernama manusia untuk hidup seorang diri tanpa membutuhakn manusia dan makhluk lainnya.

Namun, dalam interaksi, khususnya kepada sesama manusia-keluarga, masyarakat, rekan kerja-sering terjadi silang pendapat dan ketidakcocokan dalam satu dan lain hal. Rupanya, disadari atau tidak, kurang baiknya hubungan kita dengan sesama sangat erat hubungannya dengan kualitas kedekatan kita dengan Allah Ta’ala.

Karenanya, tutur Ustadz Bachtiar Nasir mengawali tiga nasihat emasnya, “Perbaiki hubunganmu dengan Allah, maka Dia akan memperbaiki hubunganmu dengan sesama manusia (dan makhluk lainnya).”

Perbaiki sisi dalammu (hati nurani), niscaya Allah akan perbaiki tampilan luarmu (perilaku).

Manusia disebut juga sebagai makhluk yang merupakan pertemuan antara dua ‘samudra’. Ialah fisik yang bertemu dengan ruhani dalam satu wadah. Kualitas perilaku, kuncinya terdapat pada baik atau buruknya kualitas ruhani seseorang.

Karenanya, mereka yang rajin memperbaiki hatinya dengan senantiasa beribadah kepada Allah Ta’ala, maka Dia pun akan membuat sisi luarnya (akhlak) memesona dalam pandangan manusia lainnya.

Penting untuk dicatat, kualitas manusia tidak tergantung pada kualitas fisiknya (tampilan luar). Bahkan, ada begitu banyak manusia-manusia yang tidak sempurna secara fisik, tapi menjadi magnet bagi sebuah generasi dan generasi-generasi selepasnya. Sebabnya, mereka ini merupakan orang-orang yang memperbagus kualitas ruhaninya sehingga Allah Ta’ala membaguskan perilakunya.

Utamakan akhiratmu, Allah pasti mencukupkanmu dalam kehidupan dunia.

Ada kesalahan yang jamak dilakukan di akhir zaman ini. Manusia berlomba mencari dan menumpuk dunia. Mobil, rumah, tanah, sawah, emas, dan berbagai asesoris duniawi lainnya; ditumpuk bak istana yang tak pernah hancur.

Padahal, menumpuk harta adalah kunci kebinasaan. Tiada secuil pun kebaikan bagi seorang hamba yang kesehariannya menumpuk harta. Sebab, harta pasti binasa, sebagaimana halnya fisik seorang hamba.

Karenanya, pungkas Ustadz Bachtiar Nasir menuturkan tiga nasihat emasnya, “Utamakan akhiratmu, maka Allah Ta’ala akan mencukupkan kebutuhan duniamu.”

Adakah yang lebih baik dari perasaan cukup? Bukankah dalam keseharian, sejatinya kita hanya membutuhkan sepiring makanan, segelas air, istirahat yang cukup dan sepotong kain yang menempel sebagai pakaian? Wallahu a’lam. [Pirman/BersamaDakwah]
Kebutuhan ekonomi yang semakin mahal membuat sebagian orang memutar otak untuk mendapatkan penghasilan lebih. Ada yang mencari pekerjaan tambahan, tapi ada juga yang putus asa dan memilih berhutang kepada keluarga atau tetangganya.

Berhutang memang suatu hal yang ingin dihindari setiap orang. Menanggung hutang menyebabkan perasaan tidak nyaman, gelisah serta menjadi beban tersendiri sampai mereka bisa melunasinya.

Sebenarnya Rasulullah SAW telah mengajarkan doa bagi mereka yang sedang terlilit hutang. Doa ini dapat menghilangkan kebingungan dalam diri seseorang sehingga dapat segera melunasi hutang. Seperti apa doanya? Berikut ini ulasan selengkapnya.


Rasulullah SAW selalu mengajarkan umatnya agar berdoa kepada Allah ketika menghadapi persoalan hidup. Termasuk ketika seseorang menghadapi masalah berupa hutang yang banyak

 Abu Said Al-Khudhri radhiyallahu’anhu bertutur, “Pada suatu hari Rasulullah shallallahu’alaih wa sallam masuk masjid. Tiba-tiba ada seorang sahabat bernama Abu Umamah radhiyallahu ’anhu sedang duduk di sana. Beliau bertanya, ‘Wahai Abu Umamah, kenapa aku melihat kau sedang duduk di luar waktu shalat?’ Ia menjawab, ‘Aku bingung memikirkan hutangku, wahai Rasulullah.’ Beliau bertanya, ‘Maukah aku ajarkan kepadamu sebuah do’a yang apabila kau baca maka Allah ta’aala akan menghilangkan kebingunganmu dan melunasi hutangmu?’ Ia menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Jika kau berada di waktu pagi maupun sore hari, bacalah do’a:

"Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazani wa a'udzubika minal 'ajzi wal kasali wa a'udzubika minal jubni wal bukhli wa a'udzubika min ghalabatiddaini wa qahrirrijali"

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.”

Kata Abu Umamah, ‘Setelah membaca do’a tersebut, Allah ta’aala berkenan menghilangkan kebingunganku dan membayarkan lunas hutangku’,” (HR. Abu Dawud 4/353).

Ada beberapa hal yang bisa kita simpulkan dari hadist di atas. Di antaranya ialah ternyata para sahabat Rasul itu juga merupakan manusia biasa yang bisa mengalami masalah. Mereka bisa bingung dan sedih jika sedang terlibat dalam masalah hutang. Seperti Abu Umamah radhiyallahu ’anhu yang terlihat sedih saat berdiam diri di dalam masjid dan ketahuan oleh Rasulullah SAW.

Pelajaran kedua yang bisa kita sahabat Nabi tersebut tidak ragu tatkala Rasulullah menawarkan doa untuk menghilangkan kebingungan dan mengatasi beban hutangnya. Sehingga setelah beberapa saat ia rajin berdoa, maka Allah SWT berkenan mengatasi masalah hutangnya tersebut.

Tentu saja sahabat Nabi tersebut melantunkan doanya dengan penuh khitmad serta meyakini kekuatan doa itu. Di samping itu, ia juga berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengatasi apa-apa yang ia lontarkan di dalam doa tersebut. Ia mencoba untuk mengatasi bingungnya, sedih, lemah dirinya, serta rasa malas dan ketidakberdayaan dalam menghadapi tindakan sewenang-wenangan manusia lain terhadap dirinya.

Allah SWT berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran,” (QS. Al-Baqarah ayat 186).

Dari ayat di atas dapat kita simpulkan beberapa pelajaran yang sangat penting:

  1. Allah SWT itu dekat. Dalam artian jangan mengira bahwa Allah itu tidak melihat dan mengetahui apa yang sedang kita kerjakan dan kita rasakan. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu terlebih lagi bila umatnya sedang menghadapi kesulitan.
  2. Barang siapa yang meminta dan memohon kepada Allah SWT, maka Allah berjanji pasti akan mengabulkan permohonannya tersebut.
  3. Agar lebih besar kemungkinan dikabulkannya permohonan tersebut, hendaknya kita penuhi semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya.
  4. Berimanlah hanya kepada Allah. Sebab Allah mempunyai nama-nama yang baik (Asmaul Husna). Allah Maha Kaya, Maha Mendengar dan Maha Kuasa untuk mengabulkan setiap doa hamba-Nya.
  5. Berimanlah kepada A
    llah Ta’aala. Sebab Allah Ta’aala memliki nama-nama yang baik.

Demikianlah ulasan mengenai pesan Rasulullah SAW kepada sahabtanya yang terlilit hutang. Untuk itu, sebagai kaum yang beriman lakukanlah anjuran di atas ketika kita sedang ditimpa masalah yang sama. Namun ingatlah, jangan hanya berdoa kepada Allah saja, tapi perlu juga diimbangi dengan usaha dan kerja keras untuk mengatasi masalah tersebut
Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW ia bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ ، يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا ، سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ ، مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا ، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فَيَمَنْ عِنْدَهُ ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ ، لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ .

“Barangsiapa melapangkan seorang mukmin dari salah satu kesusahan dunia, maka Allah akan melapangkannya dari salah satu kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa meringankan penderitan orang lain, maka Allah akan meringankan penderitaannya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa menutupi (cacat) seorang Muslim, maka Allah akan menutupi (cacatnya) di dunia dan akhirat. Dan Allah akan selalu memberi pertolongan kepada seseorang selama orang tersebut suka membantu kawannya. Dan barangsiapa melintasi suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Dan tiada berkumpul satu kaum dalam sebuah rumah di antara rumah-rumah Allah untuk membaca Al-Qur’an dan mengkajinya bersama-sama, melainkan ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan menyelimuti mereka, dan malaikat akan mengerumuni mereka, serta oleh Allah mereka akan ditempatkan di kalangan orang-orang yang berada di sisi-Nya. Sedang siapa yang memperlambat pengamalan (ilmu)nya, maka dia tidak akan dipercepat oleh nasab keturunannya (tidak lekas naik derajat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah SWT memperlakukan orang Mukmin sebagaimana seorang Mukmin memperlakukan kawannya. Jika ia berlaku lemah lembut, maka Allah memperlakukannya dengan lemah lembut pula. Jika tidak, maka Allah tidak akan memperlakukan dia dengan lemah lembut.

Dalam hadits di atas, Rasulullah SAW menerangkan, bahwa orang yang membantu kawannya dalam mengatasi kesulitan hidupnya, maka Allah akan meringankan beban penderitaannya kelak di hari kiamat. Siapa yang mengikhlaskan hutang kawannya, baik dengan cara dihibahkan, disedekahkan, atau ditangguhkan sampai dia bisa membayar, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia ini dengan diberinya kekayaan sehingga dia sendiri tidak berhutang, atau dengan diringankan penderitaannya.

Siapa yang mengetahui cacat saudaranya, baik kehormatan dirinya atau hartanya, lalu ia rahasiakan, maka Allah akan menutupi cacatnya itu di dunia dan akhirat. Selama seorang mukmin siap membantu kawannya, maka Allah akan memberinya pertolongan untuk mengatasi kebutuhannya dan mewujudkan keinginan hatinya.

Setiap orang yang pergi mencari ilmu dengan penuh kesungguhan, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga, yaitu dengan memberinya taufik untuk istiqamah mengamalkan ilmunya itu.

Pengamalan ajaran Islam, dalam segala aspeknya merupakan solusi terhadap problem kehidupan manusia.

(risalahmujahidin.com/arrahmah.com)
Mari sejenak meninjau suasana seputar Perang Tabuk. Di Surah At-Taubah yang gagah, setelah Allah menjelaskan keadaan orang-orang munafik yang ridak mau turut berangkat sebab ragu-ragu, mendustakan, dan tidak suka mengulurkan tangan kepada Rasulullah ﷺ, maka Dia jelaskan tentang segolongan sahabat yang tergelincir oleh dosanya.

“Ayat ini,” demikian Ibn ‘Abbas memberi keterangan, “turun tentang Abu Lubabah dan beberapa kawannya yang tidak turut serta mengikuti Rasulullah ke Tabuk.” Mereka adalah orang-orang yang kesungguhannya dikalahkan oleh kemalasan dan rasa takut yang tumbuh dari dosa yang pernah mereka lakukan. Namun, sungguh, mereka juga memiliki amal-amal shalih, dan Allah tak pernah menyia-nyiakannya.

Dan orang-orang selain itu, mereka mengakui dosa-dosa mereka. Mereka telah mencampuradukkan amal-amal shalih dengan keburukan lain. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ambillah dari mereka itu shadaqah untuk membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah atas mereka. Sesungguhnya doamu adalah ketenangan bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At-Taubah [9]: 102-103)

“Meski ayat ini sebabnya khusus,” begitu Imam Ibn Katsir menggarisbawahi, “tapi hukum dan hikmahnya berlaku umum.” Yakni, siapa pun yang berbuat dosa dan mencampuradukkan amal shalihnya dengan keburukan, hendaklah mengambil serta merenungi kabar gembira sekaligus peringatan dari Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ini.

Mengakui dosa-dosa adalah langkah pertama agar dapat berharap akan ampunan-Nya.

Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya untuk mengambil shadaqah yang diwajibkan dari harta mereka. Meski sebagian ulama merujukkan dhamir hum di ayat ke-103 ini pada para pendaku dosa yang tak turut Perang Tabuk, tetapi penafsiran yang lebih shahih adalah bahwa ia berlaku umum bagi seluruh ummat tanpa terkecuali dan Ulul Amri sebakda Rasulullah juga menerima hak pelaksanaannya. Inilah yang ditegaskan Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu dan menjadi ijma’ para sahabat ketika orang-orang yang menolak membayar zakat mencoba berhelah.

Maka beginilah seharusnya isi hati orang yang membayar shadaqah wajib. Dia mengenali dosanya dan mengakuinya. Dia memohon ampun pada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Dia berharap agar dapat membersihkan diri dan mensucikan jiwanya. Dan dia dalam kegelisahan hingga senantiasa berharap didoakan oleh pemungut zakatnya yang mulia. Doa itu menjadi obat galaunya. Doa itu menjadi penawar gundahnya.

Hari ini, ada yang berbangga atas shadaqahnya, padahal ia sekadar kewajiban dan sama sekali bukan kedermawanan. Hari ini ada yang menjadikan zakatnya tontonan khalayak dengan membariskan para dhu’afa di depan rumah mewahnya. Betapa menghinakan penerima, betapa mempermalukan ummat-Nya, dan betapa menistakan syi’ar Allah ‘Azza wa Jalla.

Para pemberi di lapis-lapis keberkahan, memulai penyerahan hartanya dengan rasa bersalah, pengakuan dosa, niat membersihkan diri, tekad mensucikan hati, dan harapan untuk didoakan oleh sang pengelola agar beroleh ketentraman batin dari Rabbnya. Allah, Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, amat dia harapkan belas kasih dan kemaafan-Nya.

Dikutip dari buku Lapis-lapis Keberkahan, Salim A. Fillah, hal. 230-231

(fatima/muslimahzone.com)
Assalaamu alaikum wa rahmatullah wa barakaatuhu.

Allahu Akbar...

Kita hidup di era penuh tantangan, godaan, fitnah, kezholiman, ma’siyat sampai masa bodoh. Kaum kuffar terus memerangi bahkan setiap hari kita dapat menyaksikan saudara kita dibunuh karena mereka Muslim. Demikian pula kaum musyrikiin yang didukung oleh kaum faasiqiin dan munafiqiin yang boleh jadi mereka beragama Islam tetapi anti Syariat Allah, pobia terhadap Islam, mendukung bahkan bekerja sama hingga membuka jalan kekufuran dan kemusyrikan berkuasa.

Sementara yang mengaku muslim sendiri banyak yang terlena dengan dunia ma’siyat dan berbuat zholim pada saudaranya, plus ada Muslim yang asyik dengan dirinya, hobbynya, bersikap masa bodoh, cuek, seakan-akan tidak ada terjadi apa apa, bahkan kadang terhadap keluarganya sendiri yang jauh dari Islam. Belum lagi perpecahan umat Islam yang semakin memperparah keadaan ummat mulia ini.

Subhanallah, keadaan ini persis yang telah Rasulullah sampaikan pada 15 abad silam, dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “hampir terjadi keadaan dimana ummat-ummat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang rakus yang mengerumuni makanannya”. Salah seorang sahabat berkata, “Apakah karena sedikitnya kami ketika itu?” Nabi berkata: Bahkan, pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa’ (buih kotor yang terbawa air saat banjir). Pasti Allah akan mencabut rasa segan yang ada di dalam dada-dada musuh kalian, kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn”. Kata para sahabat, “Wahai Rasulullah, apa Wahn itu? Beliau bersabda, “Cinta dunia dan takut mati” (H.R. Abu Daud no. 4297, Ahmad 5/278).

Lantas bagaimana sikap kita, sahabatku?!

Semakin takutlah kepada Allah. Tetapkan diri dalam Istiqomah. Bangunlah sholat malam, selalu berjamaah di mesjid, Hidupkan hati selalu berzikir, selalu jaga wudhu, hidupkan sunnah Rasulullah, jaga, bimbing, selamatkan keluarga. Bergabunglah dengan para sahabat yang shaleh.

Dengar nasehat dan berguru pada ulama istiqomah, hadirilah majlis ilmu dan zikir, maksimalkan perhatian, pikiran, harta dan doa terhadap keadaan ummat terutama saudara saudara kita yang ditindas.

Sederhanalah, jangan banyak tertawa, jaga perasaan. “How can we sleep on the blood of syuhada Palestina, Afghan, Irak, Syuria, Africa…”. Tetaplah bangga dengan Islam, teruslah berdakwah.
Sungguh sikap ini memang berat, dan kadang dianggap asing, aneh, kampungan, sok alim, ekstrem bahkan dituduh teroris.

Rasulullah bersabda, “Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya. Karena itu, beruntunglah orang-orang yang ‘asing’.” (HR Muslim).

“Akan datang kepada manusia masa (ketika) orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti memegang bara api” (HR. Tirmidzi).

Allahumma ya Allah, selamatkanlah kami, keluarga kami, negeri kami, seluruh ummat Rasulullah yang sangat kami cintai…aamiin.

*dikutip dari facebook K. H. Muhammad Arifin Ilham.

- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/tausiyah-k-h-muhammad-arifin-ilham-tentang-kondisi-ummat-islam-saat-ini.html#sthash.Bw1JkXRc.dpuf

Makan menggunakan tangan tentu terdengar aneh dan primitif serta pasti banyak orang yang merasa tidak tertarik melakukannya. Namun, cara yang disebut “primitif” itu ternyata merupakan cara makan yang lebih sehat, dan percaya atau tidak, cara itu ternyata dapat menjaga kondisi kesehatan Anda.
Demikian situs healthierwayoflife.com pada Selasa (13/10/2015) menyampaikan hal ini sebagai penemuan baru yang begitu mencengangkan.
Padahal terkait sunnah yang satu ini, Rasulullah ﷺ sudah mencontohkannya kepada kita jauh-jauh hari: Dari Ka’ab bin Malik dari ayahnya ia mengatakan, “Rasulullah ﷺ itu makan dengan menggunakan tiga jari dan menjilati jari-jari tersebut sebelum dibersihkan.” (HR. Muslim No. 2032 dan lainnya)
Lebih lanjut Healthier Way of Life menjabarkan beberapa manfaat makan menggunakan tangan tanpa sendok dan garpu, yaitu:
Mencegah Diabetes Tipe 2
Orang-orang yang makan dengan cepat beresiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2. Umumnya, jika Anda menggunakan garpu dan pisau maka Anda makan lebih cepat daripada makan dengan tangan Anda. Oleh karena itu, sebisa mungkin akan lebih baik jika Anda senantiasa makan dengan cara “primitif”.
Selain itu, Anda hanya dapat meyuap sepotong irisan makanan ketika Anda makan dengan tangan Anda, sementara jika Anda makan menggunakan garpu Anda, Anda dapat mengambil 5-6 potong sekaligus. Dan, Anda akan makan lebih lambat dengan tangan Anda daripada mengguankan garpu.
Meningkatkan Kinerja Sistem Pencernaan
Ini mungkin terdengar aneh, tapi makan dengan jari-jari Anda dapat meningkatkan kinerja sistem pencernaan juga karena ketika Anda mencuci tangan dengan sabun, semua bakteri jahat dibasmi sedangkan bakteri baik tetap ada di tangan Anda, yang bisa sangat sehat untuk usus Anda.
Selain itu, makan dengan jari-jari Anda bisa mengirimkan sinyal ke otak mengenai makanan yang Anda makan, apakah itu padat atau lembut, panas atau dingin, sehingga mempersiapkan sistem pencernaan untuk mencerna makanan tersebut.
Mencegah Makan Terlalu Banyak
Orang-orang yang makan dengan tangan memiliki berat badan yang lebih seimbang karena mereka tidak makan terlalu banyak. Akan menjadi sangat baik untuk anak-anak, jika orangtua mereka mengizinkan mereka untuk makan dengan tangan saja. Ini dianggap sebagai cara paling aman untuk mempertahankan berat badan normal.
Selain itu, orang-orang yang makan sambil melakukan sesuatu yang lain, seperti menonton TV, akan makan lebih banyak makanan daripada mereka yang fokus duduk dan makan saja.
Ketika Anda makan dengan tangan Anda, Anda tidak dapat melakukan hal lain karena tangan Anda tidak bersih dan atau sibuk. Oleh karena itu, Anda hanya terfokus pada proses makan dan Anda akan tahu berapa banyak makanan yang Anda makan dan kapan saatnya untuk berhenti.
Apa Makna Sunnah Makan dengan Tangan?
Di antara sunnah Nabi ﷺ, adalah makan dengan menggunakan tangan kanan dengan tiga jari. Diriwayatkan dari Ka’ab bin Malik, dari bapaknya, beliau mengatakan; “Rasulullah ﷺ itu makan dengan menggunakan tiga jari tangan kanan dan menjilati jari-jari tersebut sebelum dibersihkan.” (HR Muslim no. 20232 dan lainnya)
Tentang hadist di atas, Ibnu Utsaimin radhiallahu anhu mengatakan: “Dianjurkan untuk makan dengan tiga jari, yaitu jari tengah, jari telunjuk, dan jempol, karena hal tersebut menunjukkan tidak rakus dan ketawadhu’an. Akan tetapi hal ini berlaku untuk makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari.
Adapun makanan yang tidak bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari, maka diperbolehkan untuk menggunakan lebih dari tiga jari, misalnya nasi. Namun, makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari maka hendaknya kita hanya menggunakan tiga jari saja, karena hal itu merupakan sunnah Nabi ﷺ.” (Syarah Riyadhus shalihin Juz VII hal 243)
Sementara itu, dalam sebuah penelitian yang telah dilakukan oleh Dr Charles Gerba dari University of Arizona dikatakan bahwa kita tidak mungkin menghalangi kuman dan bakteri masuk ke dalam lingkungan kita. Namun kita bisa memerangi kuman dengan cara mencuci tangan setiap sebelum dan selesai beraktivitas.
Dan, seperti dipublikasikan paparetta.wordpress.com, pada bulan Oktober 2010 lalu. Makan menggunakan tangan terbukti lebih menyehatkan. Karena dalam tangan, terdapat enzim RNAse yang dapat mengikat bakteri, sehingga tingkat aktivitasnya sangat rendah ketika masuk bersama makanan ke saluran pencernaan tubuh.
Pada dasarnya, tujuan utama enzim RNAse ini digunakan dalam analisis genetik, dengan tujuan mendegradasi RNA, sehingga yang tinggal dari sebuah sel hidup adalah DNA-nya.
Enzim ini selalu terkandung dalam jari-jari dan telapak tangan manusia, sehingga –dengan asumsi sudah dilakukan upaya menghigieniskan tangan sebelumnya– proses penyuapan makanan ke dalam saluran pencernaan akan mengikutkan enzim yang bisa mengikat sel bakteri agar aktivitasnya tidak maksimal.
Begitu makanan masuk ke saluran pencernaan, maka enzim ini akan ikut mengikat pergerakan bakteri hingga ke saluran pembuangan. Sebaliknya, jika manusia makan menggunakan alat perantara seperti sendok dan garpu, maka tidak ada yang bisa menahan laju aktivitas bakteri yang terkandung, baik di makanan atau alat makan itu sendiri. MasyaaAllah.
(banan/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2015/11/11/makan-dengan-tangan-ala-rasulullah-terbukti-lebih-sehat-daripada-menggunakan-sendok-garpu.html#sthash.KtC6UMTC.dpuf

Total Tayangan Laman

Dzikir Asma'ul Husna

Produk-Produk yg menghina Islam

Misteri Nabi Khidir AS

INFO - INFO

Menyambut Kedatangan Imam Mahdi

Job & Career

Popular Posts