Showing posts with label pendidikan anak. Show all posts
Showing posts with label pendidikan anak. Show all posts

 Tugas Mendidik Generasi Unggulan
Pendidikan merupakan unsur terpenting dalam proses perubahan dan pertumbuhan manusia. Perubahan dan pertumbuhan kepada yang lebih baik membutuhkan pendidikan yang “baik” pula. Pendidikan yang “baik” akan menghasilkan “output” yang baik. Untuk misi membangun Umat Islam, salah satu tugas yang diemban oleh Rasulullah saw adalah ta’lim (mendidik).Firman Allah berbunyi: “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah)”. (QS. Al Jumu’ah: 2).
Dari pendidikan yang dilakukan Rasulullah Saw. lahir pribadi-pribadi unggul sebagai output, yang kemudian pada akhirnya membentuk peradaban unggul ketika itu.
Umat Islam diproyeksikan untuk menjadi pemimpin peradaban. Sebagai Umat yang menebar kebaikan bagi sekalian alam. Sebuah misi yang tidak ringan dan membutuhkan pribadi-pribadi unggulan. "Kalian adalah Umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. Ali Imran: 110).
Upaya untuk menghasilkan pribadi-pribadi Muslim unggulan merupakan tanggungjawab kita semua sebagai Umat Islam. Merupakan tanggungjawab setiap pihak, apakah lembaga pendidikan, keluarga orang tua, sosial, dan seterusnya.
Orang tua adalah pihak yang paling berperan dan bertanggungjawab dalam pendidikan anak-anak mereka agar menjadi pribadi-pribadi unggul. Anak yang saleh akan menjadi amal jariah bagi kedua orang tuanya. Betapa besar pahala yang diraih lantaran kesalehan atau bahkan kontribusi anak bagi masyarakat dan agamanya yang juga akan berbuah pahala bagi kedua orang tuanya.
Realitanya, seringkali terdapat berbagai kendala dalam upaya pendidikan anak. Mulai dari kendala finansial, kendala lingkungan sosial atau bahkan kendala keluarga. Diantara kendala yang bisa merusak pendidikan anak adalah kendala lingkungan dalam berbagai bentuknya. Di era informasi ini siapapun dengan sangat mudah untuk mengakses informasi lewat berbagai sarana. Media cetak dan elektronik sedemikian menggurita. Media bisa lebih efektif dan berhasil dalam mendidik anak-anak kita, baik pendidikan positif ataupun sebaliknya. Media mendidik cara berfikir, gaya hidup, cara bergaul dan seterusnya.
Permasalahannya adalah jika anak-anak kita dididik oleh media dengan berbagai materi negatif dan destruktif. Mengarahkan pemikiran, gaya hidup dan seterusnya ke arah negatif dan menyimpang dari Islam. Media merupakan salah satu sarana perang pemikiran (alghazwu alfikry) musuh-musuh Islam untuk melumpuhkan Umat ini. Dan sarana ini efektif bagi mereka.
Lingkungan yang berarti teman dan komunitas bergaul juga bisa mempengaruhi pendidikan anak kita. Rasulullah Saw menjadikan sahabat sebagai pihak yang bisa mempengaruhi moral dan kebiasaan seseorang. Sabdanya berbunyi: “Seseorang itu tergantung kepada kebiasaan cara hidup dan akhlak sahabatnya, maka setiap kalian perhatikanlah siapa teman yang digaulinya”. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Persahabatan dan pergaulan bisa mempengaruhi seseorang sebagaimana pepatah Arab: Siapa yang berteman dengan tukang minyak wangi Ia bisa mendapatkannya cuma-cuma, dan siapa berteman dengan tukang besi, ia akan kecipratan baunya.

Keteladanan Pendidikan Anak
Ismail seorang anak yang menjadi tauladan sepanjang sejarah dalam ketaatan kepada Allah SWT dan orang tua. Kisah yang sangat masyhur, ketika Ibrahim as. sang bapak, bermaksud menyembelihnya atas perintah Allah SWT, ia merespon dengan jawaban kesiapan dan ketaatannya. Begitulah ketaatan dan kesalehan Ismail menjadi bukti bermutunya pendidikan yang diberikan sang ayah, Ibrahim as. Metode pendidikan ala Ibrahim dirumuskan dalam sebuah doa yang beliau ucapkan ketika akan meningalkan istri dan anaknya di lembah yang tandus. Beliau as berdoa kepada Allah SWT: “Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim: 37).
Ada beberapa nilai luhur yang bisa kita gali dari firman Allah SWT lewat lisan Nabi Ibrahim as. terkait persepsi dalam mendidik anak.
Pertama, Nabi Ibrahim tahu betul bahwa beliau meninggalkan anak dan istrinya di lembah yang tandus tanpa makanan. Dalam kondisi tersebut, permohonan yang pertama kali diminta menurut logika umum adalah agar mereka dianugerahkan rizki yang bisa membuat mereka tetap hidup. Namun permohonan pertama yang diminta Nabi Ibrahim as adalah agar mereka mendirikan shalat. Dan orang yang mendirikan shalat dengan sebebnarnya adalah orang bertaqwa yang telah dijamin Allah SWT.“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. (QS. Athalaq: 2-3).
Sama halnya, ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz dinasehati agar mengumpulkan hartanya dalam masa yang cukup untuk diberikan kepada anak-keturunannya. Umar menolak nasehat itu dan berkata: “Jika seandaninya mereka (anak cucuku) adalah orang yang bertakwa, maka sesungguhnya Allah SWT yang akan menanggung rizkinya., dan jika mereka orang-orang yang fasik maka aku tidak akan membantu mereka dalam kefasikannya dengan harta yang aku wariskan“.
Kedua, permohonan Ibrahim as selanjutnya juga bukan berupa rezeki yang berbentuk materi, namun beliau memohon agar anak, istri serta cucu-cucu beliau kelak menjadi orang yang dicintai manusia. Permohonan yang begitu mulia, dan permohonan mulia seperti itu hanya bisa dicapai dengan akhlak yang mulia. Akhlak yang menentukan seseorang dibenci atau dicintai.
Ketiga, pada petikan doa yang terakhir Nabi Ibrahim memohon rezeki dalam bentuk materi. “beri rezekilah mereka dari buah-buahan agar mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim: 37). Namun permohonan ini tidak untuk tujuan mereka kaya materi, tetapi lebih daripada itu agar mereka mampu bersyukur. Bukan kekayaan yang menyebabkan mereka lupa dan kufur.
Dari pendidikan Ibrahim as bisa dipahami bahwa orientasi dalam pendidikan anak bukan semata karena materi yang akan diraih. Bukan karena “akan kerja dimana setelah lulus”, atau “dapat posisi apa nanti”. Maka dalam orientasi pendidikan anak perlu keseimbangan antara aspek ilmu pengetahuan dan akhlak.
Pendidikan yang pertama kali diberikan kepada anak adalah pendidikan akidah, ibadah dan akhlak. Pendidikan ini menurut imam Gazali hukumnya fardhu ‘ain, setiap Muslim harus menadpatkannya. Adapun pendidikan yang bersifat skill dan ketrampilan Duniawi yang selanjutnya berbentuk profesi seperti dokter, insinyur dan sebagainya hukumnya fardhu kifayah. Seorang Muslim boleh berprofesi apa saja, namun ia harus terlebih dahulu menjadi Muslim yang sebenarnya, yang memiliki akidah, ibadah dan akhlak yang baik dan tidak menyimpang adri ajaran Islam.

Pendidikan yang Integral
Pendidikan manusia sejatinya bersifat integral. Tidak ada terjadi ketimpangan antara satu aspek dengan yang lainnya. Kita pernah mengenal konsep IMTAK dan IPTEK yang merupakan sebuah upaya integrasi untuk menghasilkan SDM unggulan. Unggul secara moral spiritual maupun sains dan teknologi. Keterpaduan dalam pendidikan seperti ini bila berjalan dengan baik akan mampu menghasilkan orang-orang pintar yang baik, atau orang-orang baik yang pintar. Dua tipe inilah yang diharapkan mampu menebar rahmat kebaikan. Dan dua tipe ini secara tersirat adalah harapan dalam doa yang seringkali kita baca: “Ya Allah karuniakanlah kami kebaikan baik di Dunia maupun di Akhirat”.
Mendapat kebaikan di Dunia dengan kepintaran, dan mendapat kebaikan di Akhirat dengan ketakwaan.Banyak orang pintar yang tidak baik atau orang baik yang tidak pintar. Dua tipe ini sulit diharapkan untuk bisa menebar kebaikan dan manfaat bagi sesama, bahkan malah bisa berpotensi menjadi masalah(trouble maker). Orang pintar yang tidak baik bisa berpotensi merugikan orang lain. Sederet contoh kasus dalam hal ini, kasus para pejabat korup, kebohongan publik, mafia dan seterusnya. Adapun tipe orang baik yang tidak pintar dan tidak paham, berpotensi dimanfaatkan, dirugikan, atau bahkan dianiaya pihak lain. Wallahu a’lam. ( Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA /  IKADI )
Shalat tepat waktu apalagi dilaksanakan secara berjama’ah memang memiliki keutamaan tersendiri. Namun, hal ini sepertinya menjadi tantangan bagi kaum Muslim, khususnya di waktu Shubuh. Bangun saat adzan berkumandang bahkan sebelumnya masih menjadi hal yang sulit dilakukan sebagian orang apalagi oleh anak-anak.

Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai baik seperti shalat shubuh di awal waktu ini perlu dilakukan sejak dini, sehingga ketika memasuki usia baligh mereka telah terbiasa melakukannya bahkan menjadi sesuatu yang ringan.
  

Lalu bagaimana agar anak bisa bangun shubuh tepat waktu? Berikut tipsnya yang dikutip dari ummi-online:

  • Anak sebaiknya tidur tidak terlalu malam

Bagi anak yang sudah sekolah, sebaiknya anak selepas maghrib segera menyiapkan buku, mengaji, belajar dan segera tidur. Idealnya anak tidur tidak terlalu malam agar keesokan paginya mudah untuk di bangunkan.

Rasulullah SAW pun tidak duka begadang, agar dapat shalat malam: Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah.”

  • Memberikan pemahaman pada anak akan keutamaan bangun pagi

Berikut ini hadits mengenai sholat shubuh yang dapat disampaikan kepada anak untuk menumbuhkan motivasi dalam diri anak: “Seseorang yang melaksanakan shalat subuh berjamaah, maka orang itu akan mendapatkan pahala 119 kali dibanding shalat sendiri.”(H.R. Muslim:1049).

“Tidak ada sholat yang lebih berat bagi orang-orang munafiq dari pada sholat subuh dan isya.  Seandainya mereka tahu nilai yang terkandung di dalam kedua sholat itu, pastilah mereka mendatangi (masjid tempat) kedua sholat itu meskipun dengan merangkak.” (Al-Bukhori:617)

  • Mengajarkan Anak Menjaga adab tidur

Sebelum tidur, ajarkan anak untuk wudlu, membaca doa termasuk berdoa dan membaca surat  Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan ayat kursi. Hal ini akan membantu anak tidur lebih tenang dan insya Allah lebih mudah bangun di waktu subuh.

  • Lakukan Hypnosleep ( semacam ‘hipnotis’ sebelum tidur)

Makna hipnotis disini bukan hipnotis yang sebenarnya, melainkan semacam mendoktrin anak dengan bisikan kata-kata sugestif sebelum tidur seperti ini: “Besok adik pasti bisa bangun pagi saat adzan shubuh”.

  • Setel alarm

Gunakan alat-alat pengingat seperti jam meja dan jelaskan kepada anak bahwa saat alarm berbunyi itu tandanya anak harus segera bersiap-siap bangun.

  • Jangan tempatkan TV di kamar anak

Usahakan agar TV tidak diletakkan di kamar anak untuk menghindari anak keasikan menonton TV sehingga tidur terlalu malam.

Setiap orang tua muslim pasti menginginkan anaknya rajin bangun pagi untuk mengerjakan sholat shubuh tepat waktu dan jika memungkinkan ikut sang ayah berjamaah di masjid. Semoga tips agar anak mudah bangun saat shubuh ini bermanfaat untuk mewujudkannya.

(fauziya/muslimahzone.com)
Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, suci, bersih, dan senantiasa nyaman dalam ketaatan kepada Allah. Namun, jiwa anak juga Allah ilhamkan potensi baik dan buruk (takwa dan fujur).

Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, “Setiap anak dilahirkan dlm keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yg menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari&Muslim)

Firman Allah, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); sesuai fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (QS. Ar Rum:30)

Dan firman Allah dalam Al Quran, “Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Dia ilhamkan kepadaNya jalan fujur dan ketakwaannya.” (QS. Asy Syams: 7-8)

Allah menugaskan orangtua untuk memelihara fitrah itu agar senantiasa menyala dalam diri anak-anaknya, memberikan atmosfer kehidupan yang membuat potensi buruk (fujur) dalam jiwa anak tidak tumbuh dan berkembang. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan selalu menghadirkan Allah dalam diri anak kita.

Pada suatu kesempatan, Bunda Elly Risman, seorang psikolog senior yang begitu konsern dengan dunia anak dan keluarga, memberikan tips bagaimana menghadirkan Allah dalam benak anak-anak kita.

Beliau menyarankan agar setiap melepas anak kita pergi main atau kemana saja, atau saat kita pergi meninggalkan anak kemana saja pandanglah matanya dan katakan padanya:

Nak, ingatlah bahwa:
– Allah bersamamu,
– Allah menyaksikanmu,
– Allah memperhatikanmu,
– Allah mencintaimu,
– Allah mencukupkan kebutuhanmu.

Tidak harus semua kata disampaikan, karena kadang terasa terlalu panjang untuk anak.
Bisa saja hanya tiga atau empat poin.

Mungkin anak akan bertanya tentang maksud dari kalimat-kalimat tersebut atau malah dapat menyimpulkan sendiri. Misalkan dengan mengatakan, “Ya Bunda. Jadi, kita tak perlu takut hantu ya, kan ada Allah menemani.”

Memang diperlukan atmosfer harian yang kental agar kalimat-kalimat yang kita bisikkan tersebut tergambar kemudian tertanam dengan kuat dalam benaknya. Lagi-lagi memang mendidik anak tak lain adalah mendidik diri kita sendiri, orangtuanya. Membesarkan mereka tak lain adalah membesarkan jiwa dan batin kita sendiri. Semoga kita mampu mewujudkan kalimat-kalimat tersebut dalam hari-hari kita sehingga anak-anakpun mendapat bisikan cinya yang nyata. Aamiin Allahumma aamiin.

(esqiel/muslimahzone.com)
Dalam sebuah buku yang berjudul “Child Psychiatry “, termuat hasil penelitian terhadap sejumlah anak yang mengalami kesulitan dalam belajar di sekolah, juga mengalami kesulitan dengan teman-temannya dalam pergaulan. Salah satu kasus seorang anak memperlihatkan ekspresi wajah kurang gembira. Ia terlihat lebih banyak murung dan menyendiri. Ia lamban sekali menjawab pertanyaan. Angka-angka yang dicapainya di sekolah kurang dari cukup. Ibu anak itu sedih dengan keadaan anaknya yang demikian.

Dari ibu anak itu diperoleh beberapa keterangan. Keterangan pertama adalah bahwa anak itu ternyata belum cukup umur ketika dimasukkan sekolah. Sebenarnya hal tersebut tidak terlalu menentukan. Keterangan kedua ialah bahwa ayah itu adalah seorang lelaki bertipe kasar, sering marah-marah, terlalu galak terhadap istri dan anaknya. Bersikap kasar, sering dia perlihatkan terhadap si anak. Akibatnya anak itu sering merasa tegang di bawah ancaman dan sikap kasar ayahnya. Situasi inilah kemudian menyebabkan perilakunya di sekolah menjurus kurang normal. Ia suka menyendiri. Terhadap guru lelaki, terutama yang mirip dengan ayahnya, ia merasa takut. Melihat lelaki dengan profil seperti ayahnya membuat ambang bawah sadarnya teringat akan figur ayah berikut kekejamannya.

Kasus lain adalah seorang guru yang sering kesal melihat kenakalan seorang anak lelaki berusia enam tahun. Ia sulit diatur. Berkali-kali guru memperingatkannya agar tenang dan tidak menganggu teman-temannya. Tetapi ia tidak memperdulikannya. Sering ia merebut dan memakan bekal makanan teman-temanya, memperlakukan teman-temanya sebagai pesuruhnya dan berbagai sikap lain yang menjengkelkan yang kadang-kadang berakhir dengan perkelahian. Setelah diselidiki, ternyata kedua orangtuanya memperlakukan anak itu dengan sikap manja berlebihan. Orang tua mendidik si anak dirumah dengan cara memenuhi segala keinginannya. Mereka kurang menyadari bahwa dampak negatif cara mendidik yang keliru di rumah, menyebabkan perilaku si anak di sekolah sangat menjengkelkan guru, maupun teman-temannya.

Ahli psikologis dan ahli pendidikan hampir sependapat, bahwa sikap dan cara orang tua mendidik anak di rumah, mempengaruhi perilakunya di sekolah. Anak yang ada di rumah memperoleh pendidikan yang tepat dan benar serta baik, umumnya akan memperlihatkan sikap dan perilaku yang normal di sekolahnya. Ia dapat bergaul baik dengan temannya. Ia mungkin bukanlah murid yang menarik bagi temannya, tetapi setidak-tidaknya, kehadirannya di lingkungan sekolah tidak menjengkelkan. Cara mendidik anak yang tidak edukatif, dapat menimbulkan dampak negatif, antara lain termanifestasi di dalam pergaulan anak di sekolahnya. Sebuah nasehat bijak dalam hal ini ialah. “Jika Anda tidak ingin anak anda mengalami kesulitan dan hambatan di lingkungan sekolahnya, berikanlah mereka pendidikan yang tepat di rumah.”

Cuplikan cerita diatas dengan jelas menyatakan bahwa ada kaitannya perilaku anak di luar rumah (dalam hal ini sekolah) dengan pola asuh di rumah.  Pola asuh anak di rumah oleh orangtua mereka atau pun oleh keluarganya, sangat menentukan kepribadian anak.  Jauh sebelumnya Rasulullah SAW menyatakan bahwa: “Anak-anak itu dilahirkan dalam keadaan suci bersih, kedua orangtuanya lah yang menjadikan mereka Majusi, Yahudi, atau Nasrani”. Statemen rasul ini bertemu faktanya yang salah satunya adalah petikan cerita diatas.  Orang sekarang seolah melihat fakta baru bahwa ada keterkaitan antara pola asuh di rumah dengan perilaku anak diluar rumah.  Dalam pembahasan psikologi, melalui penelitian seperti diatas, baru ditemukan kaitannya.  Tetapi Islam, melalui lisan Rasulnya telah memberitakan itu jauh sebelum ilmu psikologi itu ada.  Oleh sebab itu,kita sebagai orangtua harus sangat hati-hati dalam merencanakan dan melakukan pendidikan dan pengasuhan anak di rumah.  Karena rumah khususnya ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.  “Al-ummu madrosatul aula”.

Adapun terkait anggapan bahwa perangai orangtua (apakah baik ataupun buruk) bisa diwariskan pada anak-anak, atau dengan kata lain perangai/sifat itu merupakan gen yang bisa diturunkan adalah pernyataan yang tidak benar.

Pertama, secara faktual ada kisah dalam sebuah majalah, seorang ayah yang mencari nafkah keluarganya dengan cara mencopet dan menjambret.  Istri dan anak-anaknya tidak mengetahui bahwa suami atau ayah mereka berprofesi seperti itu.  Mereka akhirnya tahu setelah anak-anak dewasa dan mereka bersekolah bahkan ada yang sampai mengecap bangku perguruan tinggi.  Ini menunjukkan bahwa perilaku orangtua bukan sifat yang bisa diwariskan.

Kedua, lain halnya bila ayah mengajak anaknya untuk melakukan hal serupa.  Hingga anak-anaknya mempunyai profesi yang sama dengan ayahnya.  Ini bukan persoalan gen tetapi merupakan pemikiran/pemahaman keliru yang diwariskan pada anak-anaknya.  Lain hal dengan kondisi pertama dia tahu bahwa mencuri itu tidak benar, tetapi ia sangat ingin anak-anaknya sukses dan tidak mengikuti sepak terjang ayahnya.

Ketiga, Islam melarang perbuatan jahat, bila seseorang melakukan kejahatan itu disebabkan ia tidak tahu bahwa Islam melarangnya (jadi ini faktor kebodohan/jahil), atau ia tahu itu perbuatan jahat tetapi ia lalai untuk terikat dengan aturan karena lemahnya kesadaran, atau karena ia kalah melawan godaan syaithan.  Jadi seseorang melakukan kejahatan bukan karena keturunan atau sifat yang diwariskan.

Ada lagi ungkapan lain bahwa buah itu tidak jatuh jauh dari pohonnya. Ungkapan ini banyak dipakai dalam khasanah pendidikan orangtua.Ungkapan para orangtua dulu boleh jadi ada benarnya, bahwa bisa saja anak itu mempunyai perilaku yang tidak berbeda jauh dengan orangtuanya.  Jika orangtuanya baik, anaknya tentu akan baik.  Jika orangtua buruk perangainya, maka anaknya juga tidak akan jauh berbeda.  Boleh jadi ungkapan ini dipengaruhi oleh pemahaman mereka terhadap Islam.  Yaitu bahwa orangtua yang baik akan mengajari anak-anak mereka dengan kebaikan.  Sebaliknya, orangtua yang buruk tentu akan memberi contoh buruk kepada anak mereka dan ini akan mempengaruhi perilaku anak.  Hanya saja ini bukan masalah faktor genetis atau bukan.  Melainkan masalah pola pengasuhan anak terhadap anak-anak mereka.  Untuk ini diperlukan kesadaran yang tinggi pada orangtua tentang pendidikan dan pengasuhan anak.

Dalam konsep perbuatan manusia, Islam menjelaskan bahwa ada imbalan untuk perbuatan baik dan ada balasan untuk perbuatan yang buruk. Perbuatan baik akan mendapat pahala dan kemudian nanti mereka berhak untuk tinggal di surga sebagai tempat kembali yang terbaik.  Sedangkan perbuatan yang buruk akan dibalas dengan siksa dan bila tidak segera bertaubat, pelakunya akan masuk ke neraka.  Begitupun dalam proses pendidikan anak, Islam mengenalkan bagaimana pendidik harus memberi reward (pujian, imbalan, penghargaan) dan juga punishment (kritikan, sanksi) kepada anak didik sesuai jenis perbuatannya.  Pendekatan ini merupakan pendekatan kealamiahan yang sesuai dengan karakteristik manusia.

Jadi, berilah anak-anak itu kabar gembira dan peringatan.  Untuk apa? Tentu kabar gembira dapat menjadi motivasi bagi mereka untuk selalu mengerjakan kebaikan.  Dan peringatan tentu saja agar mereka menghindari perbuatan yang tidak baik.  Pemberian pujian dan teguran tentu saja menyesuaikan dengan usia anak.  Sebelum nalar atau daya cerna informasinya jalan, mereka dominan dengan isyarat atau visualisasi yang menunjukkan pujian atau celaan.  Maksudnya adalah, jangan sampai anak tidak bisa membedakan antara marah dan tidaknya orangtua.  Karena orangtuanya tidak pernah marah, akhirnya dia tidak tahu mana perbuatan dia yang baik dan mana yang tidak.  Begitupula bila orangtua lebih dominan marah, maka anak tidak tahu sebenarnya perbuatan seperti apa yang disebut baik itu.  Baik dan buruk seperti tidak ada bedanya.  Padahal pada masa itulah si anak menerima pembelajaran tentang baik buruknya suatu perbuatan.

Bagaimana orangtua mengenalkan nilai-nilai perbuatan itu baik atau buruk yang paling mendasar adalah orangtua mempunyai visi dalam mendidik anak.  Kemudian visi ini akan diwujudkan dengan strategi yang tepat.

Pertama, tentu dengan contoh (uswah), orangtua harus melakukan perbuatan baik yang diperintahkan Allah SWT.  Orangtua melakukan hal ini dengan tujuan mengajari anak untuk melakukan hal tersebut.  Jangan sesekali melakukan perbuatan yang dilarang tanpa disertai pembetulan atau ralat, saat anak kita mengingatkan.  Bila kita terlanjur melakukan perbuatan tidak baik di depan anak-anak, jangan tunda waktu untuk segera menjelaskan dan memberi pengertian serta meminta maaf.  Walhasil, pendekatan dengan contoh ini memerlukan kesadaran yang ekstra.

Kedua, dengan pembiasaan.  Biasakan kita menentukan objektif dalam segala hal yang terkait pendidikan dan pengasuhan anak.  Objektif tertinggi orangtua adalah menghendaki anaknya menjadi anak sholih, taat pada Allah dan Rasulnya, berbakti pada orangtua dan berguna bagi umat. Untuk menuju kesana tentunya melewati berbagai tahapan.  Setiap tahapan tentunya mempunyai rincian apa yang hendak dilakukan.  Untuk itu objektif nya pun berlainan dalam setiap tahapan.  Seperti bagaimana agar anak menjadi anak yang berbakti pada orangtua.  Gambaran anak berbakti harus dimiliki oleh orangtua, kemudian dia menentukan cara supaya anaknya bisa seperti itu.  Ada tahapan yang dilalui dan setiap tahapan mempunyai target sendiri-sendiri. Contoh, bagaimana agar anak mandiri dalam mengurusi keperluan sekolahnya, mulai dari membereskan buku, menyiapkan pakaian seragam sekolahnya, dsb.  Targetnya anak mandiri dan disiplin terhadap tugasnya.  Secara teknis orangtua akan membuatkan jadwal kegiatan anak sehari-hari, mulai dari bangun pagi hingga malam menjelang istirahat.  Sepanjang waktu itu apa saja yang akan dikerjakan anak, dan apa yang menjadi target dari aktivitas tersebut.  Tentunya semua ini memerlukan kesungguhan dan kesabaran dari pihak orangtua.  Karena yang akan kita bentuk adalah pola hidup atau kebiasaan.

Ketiga, pendekatan persahabatan.  Senantiasa mengkomunikasikan apapun yang menjadi harapan dan keinginan orangtua. Gambarkan filosofis (dasar) dari sebuah perbuatan yang dituntun oleh syariah Islam.

Narasumber: Ir. Ratu Erma Rahmayanti, mediaislamnet.com

Total Tayangan Laman

Dzikir Asma'ul Husna

Produk-Produk yg menghina Islam

Misteri Nabi Khidir AS

INFO - INFO

Menyambut Kedatangan Imam Mahdi

Job & Career

Popular Posts