Showing posts with label syeikh. Show all posts
Showing posts with label syeikh. Show all posts
Perjalanan Intelektual Sang Pujangga Sejati

Nama lengkapnya adalah Abu Abdul Mu’ti Muhammad bin Umar bin Arbi bin Ali Al-Tanara Al-Jawi Al-Bantani. Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani. Dilahirkan di kampung Tanara, kecamatan Tirtayasa, kabupaten Serang, Banten. Pada tahun 1813 M atau 1230 H. Ayahnya bernama Kyai Umar, seorang pejabat penghulu yang memimpin masjid. Dari silsilahnya, Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke 12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari Putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bernama Sunyara-ras (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan Muhammad melalui Imam Ja’far Assidiq, Imam Muhammad Al-Baqir, Imam Ali ZainAl-Abidin, Sayyidina Husain, Fatimah Al-Zahra
Pada usia lima tahun Syekh Nawawi belajar langsung dibawah asuhan ayahandanya. Di usia yang masih kanak-kanak ini, beliau pernah bermimpi ber-main dengan anak-anak sebayanya di sungai, karena merasakan haus ia meminum air sungai tersebut sampai habis. Namun, rasa dahaganya tak kunjung surut. Maka Nawawi bersama teman-temannya beramai-ramai pergi ke laut dan air lautpun diminumnya seorang diri hingga mengering.
Ketika usianya memasuki delapan tahun, anak pertama dari tujuh bersaudara itu memulai peng-gembaraannya mencari ilmu. Tempat pertama yang dituju adalah Jawa Timur. Namun sebelum berangkat, Nawawi kecil harus menyanggupi syarat yang diajukan oleh ibunya, “Kudo’akan dan kurestui kepergianmu mengaji dengan syarat jangan pulang sebelum kelapa yang sengaja kutanam ini berbuah.” Demikian restu dan syarat sang ibu. Dan Nawawi kecilpun menyanggupi-nya.
Maka berangkatlah Nawawi kecil menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu menuntut ilmu. Setelah tiga tahun di Jawa Timur, beliau pindah ke salah satu pondok di daerah Cikampek (Jawa Barat) khusus belajar lughat (bahasa) beserta dengan dua orang sahabatnya dari Jawa Timur. Namun, sebelum diterima di pondok baru tersebut, mereka harus mengikuti tes terlebih dahulu. Ternyata mereka ber-tiga dinyatakan lulus. Tetapi menurut kyai barunya ini, pemuda yang bernama Nawawi tidak perlu mengu-langi mondok. “Nawawi kamu harus segera pulang karena ibumu sudah menunggu dan pohon kelapa yang beliau tanam sudah berbuah.”Terang sang kyai tanpa memberitahu dari mana beliau tahu masalah itu.
Tidak lama setelah kepulangannya, Nawawi muda dipercaya yang mengasuh pondok yang telah dirintis ayahnya. Di usianya yang masih relatif muda, beliau sudah tampak kealimannya sehingga namanya mulai terkenal di mana-mana. Mengingat semakin banyaknya santri baru yang berdatangan dan asrama yang tersedia tidak lagi mampu menampung, maka kyai Nawawi berinisiatif pindah ke daerah Tanara Pesisir.
Pada usia 15 tahun, ia mendapat kesempatan un-tuk pergi ke Makkah menunaikan ibadah haji. Disana ia memanfaatkan waktunya untuk mempelajari bebe-rapa cabang ilmu, diantaranya adalah: ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu hadits, tafsir dan ilmu fiqh. Setelah tiga tahun belajar di Makkah ia kembali ke daerahnya tahun 1833 M dengan khazanah ilmu keagamaan yang relatif cukup lengkap untuk mem-bantu ayahnya mengajar para santri.
Namun hanya beberapa tahun kemudian ia memutuskan berangkat lagi ke Makkah sesuai dengan impiannya untuk mukim dan menetap di sana. Di Makkah ia melanjutkan belajar ke guru-gurunya yang terkenal. Pertama kali ia mengikuti bimbingan dari Syekh Khatib Sambas (Penyatu Thariqat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Indonesia) dan Syekh Abdul Gani Bima, ulama asal Indonesia yang bermukim di sana. Setelah itu belajar pada Sayyid Ahmad Dimyati, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan yang keduanya di Makkah. Sedang di Madinah, ia belajar pada Syekh Muhammad Khatib Al-Hambali. Kemudian pada tahun 1860 M. Nawawi mulai mengajar di lingkungan Masjid Al-Haram. Prestasi mengajarnya cukup me-muaskan, karena dengan kedalaman pengetahuan agamanya, ia tercatat sebagai syekh disana. Pada tahun 1870 M, kesibukannya bertambah, karena ia harus banyak menulis kitab. Inisiatif menulis banyak datang dari desakan sebagian koleganya dan para sahabatnya dari Jawa. Kitab-kitab yang ditulisnya sebagian besar adalah kitab-kitab komentar (syarh) dari karya-karya ulama sebelumnya yang populer dan dianggap sulit dipahami. Alasan menulis syarh selain karena permin-taan orang lain, Nawawi juga berkeinginan untuk melestarikan karya pendahulunya yang sering meng-alami perubahan (ta’rif) dan pengurangan.
Dalam menyusun karyanya Syekh Nawawi selalu berkonsultasi dengan ulama-ulama besar lainnya, sebelum naik cetak naskahnya terlebih dahulu dibaca oleh mereka. Karya-karya beliau cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia karena karya-karya beliau mudah difahami dan padat isinya. Nama Nawawi bahkan termasuk dalam kategori salah satu ulama besar di abad ke 14 H./19 M. Karena kemasyhurannya beliau mendapat gelar:Sayyid Ulama Al-Hijaz, Al-Imam Al-Muhaqqiq wa Al-Fahhamah Al-Mudaqqiq, A’yan Ulama Al-Qarn Al-Ram Asyar li Al-Hijrah, Imam Ulama’ Al-Haramain.
Syekh Nawawi cukup sukses dalam mengajar murid-muridnya, sehingga anak didiknya banyak yang menjadi ulama kenamaan dan tokoh-tokoh nasional Islam Indonesia, diantaranya adalah: Syekh Kholil Bangkalan, Madura, KH. Hasyim Asy’ari dari Tebu Ireng Jombang (Pendiri Organisasi NU), KH. Asy’ari dari Bawean, KH. Tubagus Muhammad Asnawi dari Caringin Labuan, Pandeglang Banten, KH. Tubagus Bakri dari Sempur-Purwakarta, KH. Abdul Karim dari Banten.
Syekh Nawawi Banten Sebagai Mahaguru Sejati
Nama Syekh Nawawi Banten sudah tidak asing lagi bagi umat Islam Indonesia. Bahkan kebanyakan orang menjulukinya sebagai Imam Nawawi kedua. Imam Nawawi pertama adalah yang membuat Syarah Shahih Muslim, Majmu’ Syarhul Muhadzab, Riyadhus Sholihin dan lain-lain. Melalui karya-karyanya yang tersebar di Pesantren-pesantren tradisional yang sampai sekarang masih banyak dikaji, nama kyai asal Banten ini seakan masih hidup dan terus menyertai umat memberikan wejangan ajaran Islam yang menyejuk-kan. Di setiap majelis ta’lim karyanya selalu dijadikan rujukan utama dalam berbagai ilmu, dari ilmu tauhid, fiqh, tasawuf sampai tafsir. Karya-karyanya sangat terkenal.
Di kalangan komunitas pesantren Syekh Nawawi tidak hanya dikenal sebagai ulama penulis kitab, tapi juga mahaguru sejati (the great scholar). Nawawi telah banyak berjasa meletakkan landasan teologis dan batasan-batasan etis tradisi keilmuan di lembaga pendidikan pesantren. Ia turut banyak membentuk keintelektualan tokoh-tokoh para pendiri pesantren yang sekaligus juga banyak menjadi tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Apabila KH. Hasyim Asy’ari sering disebut sebagai tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya NU, maka Syekh Nawawi adalah guru utamanya. Di sela-sela pengajian kitab-kitab karya gurunya ini, seringkali KH. Hasyim Asy’ari bernostalgia bercerita tentang kehidupan Syekh Nawawi, kadang mengenangnya sampai meneteskan air mata karena besarnya kecintaan beliau terhadap Syekh Nawawi.
Goresan Tinta Syekh Nawawi
Di samping digunakan untuk mengajar kepada para muridnya, seluruh kehidupan beliau banyak dicurahkan untuk mengarang beberapa kitab besar sehingga tak terhitung jumlahnya. Konon saat ini masih terdapat ratusan judul naskah asli tulisan tangan Syekh Nawawi yang belum sempat diterbitkan.
Kitab-kitab karangan beliau banyak yang di-terbitkan di Mesir, seringkali beliau hanya mengirim-kan manuskripnya dan setelah itu tidak memperduli-kan lagi bagaimana penerbit menyebarkan hasil karyanya, termasuk hak cipta dan royaltinya, selanjutnya kitab-kitab beliau itu menjadi bagian dari kurikulum pendidikan agama di seluruh pesantren di Indonesia, bahkan Malaysia, Filipina, Thailand dan juga negara-negara di Timur Tengah. Menurut Ray Salam T. Mangondana, peneliti di Institut Studi Islam, Universitas of Philippines, ada sekitar 40 sekolah agama tradisional di Filipina yang menggunakan karya Nawawi sebagai kurikulum belajarnya. Selain itu Sulaiman Yasin, dosen di Fakultas Studi Islam Universitas Kebangsaan di Malaysia juga menggunakan karya beliau untuk mengajar di kuliahnya. Pada tahun 1870 para ulama universitas Al-Azhar Mesir pernah mengundang beliau untuk memberikan kuliah singkat di suatu forum diskusi ilmiah. Mereka tertarik untuk mengundang beliau, karena sudah dikenal di seantero dunia.
Karya-karya Syekh Nawawi al-Bantani secara lebih lengkap antara lain adalah sebagai berikut:
1.) al-Tsamâr al-Yâni’ah syarah al-Riyâdl al-Badî’ah
2.) al-‘Aqd al-Tsamîn syarah Fath al-Mubîn
3.)Sullam al-Munâjah syarah Safînah al-Shalâh
4.)Baĥjah al-Wasâil syarah al-Risâlah al-Jâmi’ah bayn al-Usûl wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf
5.)al-Tausyîh/ Quwt al-Habîb al-Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb
6.)Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah al-‘Ain bi Muĥimmâh al-Dîn
7.)Marâqi al-‘Ubûdiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah
8.)Nashâih al-‘Ibâd syarah al-Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd
9.)Salâlim al-Fadhlâ΄ syarah Mandhûmah Ĥidâyah al-Azkiyâ΄
10.)Qâmi’u al-Thugyân syarah Mandhûmah Syu’bu al-Imân
11.)al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim al-Tanzîl al-Mufassir ‘an wujûĥ mahâsin al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma’nâ Qur΄an Majîd
12.)Kasyf al-Marûthiyyah syarah Matan al-Jurumiyyah
13.)Fath al-Ghâfir al-Khathiyyah syarah Nadham al-Jurumiyyah musammâ al-Kawâkib al-Jaliyyah
14.)Nur al-Dhalâm ‘ala Mandhûmah al-Musammâh bi ‘Aqîdah al-‘Awwâm
15.)Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts
16.)Madârij al-Shu’ûd syarah Maulid al-Barzanji
17.)Targhîb al-Mustâqîn syarah Mandhûmah Maulid al-Barzanjî
18.)Fath al-Shamad al ‘Âlam syarah Maulid Syarif al-‘Anâm
19.)Fath al-Majîd syarah al-Durr al-Farîd
20.)Tîjân al-Darâry syarah Matan al-Baijûry
21.)Fath al-Mujîb syarah Mukhtashar al-Khathîb
22.)Murâqah Shu’ûd al-Tashdîq syarah Sulam al-Taufîq
23.)Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah al-Najâ
24.)al-Futûhâh al-Madaniyyah syarah al-Syu’b al-Îmâniyyah
25.)‘Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain
26.)Qathr al-Ghais syarah Masâil Abî al-Laits
27.)Naqâwah al-‘Aqîdah Mandhûmah fi Tauhîd
28.)al-Naĥjah al-Jayyidah syarah Naqâwah al-‘Aqîdah
29.)Sulûk al-Jâdah syarah Lam’ah al-Mafâdah fi bayân al-Jumu’ah wa almu’âdah
30.)Hilyah al-Shibyân syarah Fath al-Rahman
31.)al-Fushûsh al-Yâqutiyyah ‘ala al-Raudlah al-Baĥîyyah fi Abwâb al-Tashrîfiyyah
32.)al-Riyâdl al-Fauliyyah
33.)Mishbâh al-Dhalâm’ala Minĥaj al-Atamma fi Tabwîb al-Hukm
34.)Dzariyy’ah al-Yaqîn ‘ala Umm al-Barâĥîn fi al-Tauhîd
35.)al-Ibrîz al-Dâniy fi Maulid Sayyidina Muhammad al-Sayyid al-Adnâny
36.)Baghyah al-‘Awwâm fi Syarah Maulid Sayyid al-Anâm
37.)al-Durrur al-Baĥiyyah fi syarah al-Khashâish al-Nabawiyyah
38.)Lubâb al-bayyân fi ‘Ilmi Bayyân.
Syeikh Nawawi menghembuskan nafas terakhir di usia 84 tahun, tepatnya pada tanggal 25 Syawal 1314 H. atau 1897 M. Beliau dimakamkan di Ma’la dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin istri Rasulullah SAW. Beliau sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa khususnya di Banten, umat Islam di desa Tanara, Tirtayasa Banten setiap tahun di hari Jum’at terakhir bulan Syawal selalu diadakan acara haul untuk memperingati jejak peninggalan Syekh Nawawi Banten.
Pembantaian Keluarga Syeikh Nawawi oleh Kaum Wahabi
Kisah ini diceritakan oleh keturunan dari keluarga Syaikh Nawawi al-Bantani yang berhasil lolos dari kejaran Wahabi. Beliau adalah KH. Thabari Syadzily. Berikut adalah sedikit kisah pembataian tersebut.
Pada zaman dahulu di kota Mekkah keluarga Syeikh Nawawi bin Umar Al-Bantani (Muallif Kitab) pun tidak luput dari sasaran pembantaian Wahabi. Ketika salah seorang keluarga beliau sedang duduk memangku cucunya, kemudian gerombolan Wahabi datang memasuki rumahnya tanpa diundang dan langsung membunuh dan membantainya hingga tewas. Darahnya mengalir membasahi tubuh cucunya yang masih kecil yang sedang dipangku oleh beliau.
Sedangkan keluarganya yang lain terutama golongan yang laki-laki dikejar-kejar oleh gerombolan Wahabi untuk dibunuh. Alhamdulillah, mereka selamat sampai ke Indonesia dengan cara menyamar sebagai perempuan.
Posisi Strategis Syeikh Nawawi bagi Dunia dan Indonesia
1. Syekh Nawawi Al-Bantani adalah satu dari tiga ulama Indonesia yang mengajar di Masjid Al-Haram di Makkah Al-Mukarramah pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dua yang lain ialah muridnya, Ahmad Khatib Minangkabau dan Kiai Mahfudz Termas. Ini menunjukkan bahwa keilmuannya sangat diakui tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di semenanjung Arab. Syekh Nawawi sendiri menjadi pengajar di Masjid al-Haram sampai akhir hayatnya yaitu sampai 1898, lalu dilanjutkan oleh kedua muridnya itu. Wajar, jika ia dimakamkan berdekatan dengan makam istri Nabi Khadijah di Ma’la.
2. Syekh Nawawi Al-Bantani mendapatkan gelar “Sayyidu Ulama’ al-Hijaz” yang berarti “Sesepuh Ulama Hijaz” atau “Guru dari Ulama Hijaz” atau “Akar dari Ulama Hijaz”. Yang menarik dari gelar di atas adalah \beliau tidak hanya mendapatkan gelar “Sayyidu ‘Ulama al-Indonesi” sehingga bermakna, bahwa kealiman beliau diakui di semenanjung Arabia, apalagi di tanah airnya sendiri. Selain itu, beliau juga mendapat gelar “al-imam wa al-fahm al-mudaqqig” yang berarti “Tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam”. Snouck Hourgronje member gelar “Doktor Teologi”.
3. Pada tahun 1870, Syekh Nawawi diundang para ulama Universitas Al-Azhar dalam sebuah seminar dan diskusi, sebagai apresiasi terhadap penyebaran buku-buku Syekh Nawawi di Mesir. Ini membuktikan bahwa ulama al-Azhar mengakui kepakaran Syekh Nawawi al-Bantani.
4. Paling tidak terdapat 34 karya Syekh Nawawi yang tercatat dalam Dictionary of Arabic Printed Books. Namun beberapa kalangan lainnya malah menyebut karya-karyanya mencapai lebih dari 100 judul, meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti tauhid, ilmu kalam, sejarah, syari’ah, tafsir, dan lainnya. Sebagian karyanya tersebut juga diterbitkan di Timur Tengah. Dengan kiprah dan karya-karyanya ini, menempatkan dirinya sebagai alim terpandang di Timur Tengah, lebih-lebih di Indonesia.
5. Kelebihan dari Syekh Nawawi al-Bantani adalah menjelaskan makna terdalam dari bahasa Arab, termasuk sastera Arab yang susah dipahami, melalui syarah-syarahnya. Bahasa yang digunakan Syekh Nawawi memudahkan pembaca untuk memahami isi sebuah kitab. Wajar jika syarah Syekh Nawawi menjadi rujukan, karena dianggap paling otentik dan paling sesuai maksud penulis awal. Bahkan, di Indonesia dan beberapa segara lain, syarah Syekh Nawawi paling banyak dicetak yang berarti paling banyak digunakan dibandingkan dengan buku yang terbit tanpa syarahnya.
6. Syekh Nawawi hidup di zaman di mana pemikiran Islam penuh perdebatan ekstrim antara pemikiran yang berorientasi pada syari’at dan mengabaikan hal yang bersifat sufistik di satu sisi (seperti Wahabi) serta sebaliknya pemikiran yang menekankan sufisme lalu mengabaikan syari’at di sisi lain (Seperti tarekat aliran Ibn Arabi). Kelebihan dari Syekh Nawawi adalah mengambil jalan tengah di antara keduanya. Menurutnya, syari’at memberikan panduan dasar bagi manusia untuk mencapai kesucian rohani. Karena itu, seseorang dianggap gagal jika setelah melaksanakan panduan syari’at dengan baik, namun rohaninya masih kotor. Hal sama juga berlaku bagi seorang sufi. Mustahil ia akan mencapai kesucian rohani yang hakiki, bukan kesucian rohani yang semu, jika ia melanggar atau malah menabrak aturan syari’at. Selain itu, di masa itu juga muncul pemikiran yang secara ekstrem mengutamakan aqli dan mengabaikan naqli atau sebaliknya mengutamakan naqli dan mengabaikan aqli. Namun Syekh Nawawi berhasil mempertemukan di antara keduanya, bahwa dalil naqli dan aqli harus digunakan secara bersamaan. Namun jika ada pertentangan di antara kedunya, maka dalil naqli harus diutamakan.
7. Dalam konteks Indonesia, Syekh Nawawi merupakan tokoh penting yang memperkenalkan dan menancapkan pengaruh Teologi ‘Asy’ariyah. Teologi ini merupakan teologi jalan tengah antara Teologi Qadariyah bahwa manusia mempunyai kebebasan mutlak dengan teologi Jabariyah yang menganggap manusia tidak mempunyai kebebasan untuk berbuat baik atau berbuat jahat.
8. Cara berpikir jalan tengah ini kemudian diadopsi dengan baik oleh Nahdlatul Ulama (NU). Karena itu, banyak kalangan yang berpandangan bahwa NU merupakan institusionalisasi dari cara berpikir yang dianut oleh Syekh Nawawi al-Bantani. Apalagi pendiri NU, KH. Hasyim ‘Asy’ari merupakan salah satu murid dari Syekh Nawawi al-Bantani.
9. Dalam konteks penjajahan, Syekh Nawawi al-Bantani berpendapat bahwa bekerja sama dengan penjajah Belanda adalah haram hukumnya. Karena itu, murid-murid Syekh Nawawi al-Bantani merupakan bagian terpenting dari sejarah perjuangan memperebutkan kemerdekaan Indonesia. Pemberontakan Petani Banten di abad 18 yang sangat merugikan Belanda, misalnya, merupakan salah satu contoh dari karya murid Syek Nawawi. Karena itu, wajar jika Syekh Nawawi menjadi salah satu objek “mata-mata” Snouck Hourgronje.
10. Berdasarkan penelitian Martin Van Bruinesen (Indonesianis dari Belanda) setelah mengadakan penelitian di 46 pesantren terkemuka di Indonesia ia berkesimpulan bahwa 42 dari 46 pesantren itu menggunakan kitab-kitab yang ditulis Syekh Nawawi al-Bantani. Menurut Martin, sekurang-kurangnya 22 karangan Nawawi yang menjadi rujukan di pesantren-pesantren itu.
 
Karomah-Karomah Syekh Nawawi Al-Bantani
1. Pada suatu malam Syekh Nawawi sedang dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah. Beliau duduk di atas ‘sekedup’onta atau tempat duduk yang berada di punggung onta. Dalam perjalanan di malam hari yang gelap gulita ini, beliau mendapat inspirasi untuk menulis dan jika insipirasinya tidak segera diwujudkan maka akan segera hilang dari ingatan, maka berdo’alah ulama ‘alim allamah ini, “Ya Allah, jika insipirasi yang Engkau berikan malam ini akan bermanfaat bagi umat dan Engkau ridhai, maka ciptakanlah telunjuk jariku ini menjadi lampu yang dapat menerangi tempatku dalam sekedup ini, sehingga oleh kekuasaan-Mu akan dapat menulis inspirasiku.” Ajaib! Dengan kekuasaan-Nya, seketika itu pula telunjuk Syekh Nawawi menyala, menerangi ‘sekedup’nya. Mulailah beliau menulis hingga selesai dan telunjuk jarinya itu kembali padam setelah beliau menjelaskan semua penulisan hingga titik akhir. Konon, kitab tersebut adalah kitab Maroqil Ubudiyah, komentar kitab Bidayatul Hidayahkarangan Imam Al-Ghazali.
2. Ketika tempat kubur Syekh Nawawi akan dibongkar oleh Pemerintah untuk dipindahkan tulang belulangnya dan liang lahatnya akan ditum-puki jenazah lain (sebagaimana lazim di Ma’la) meskipun yang berada di kubur itu seorang raja sekalipun. Saat itulah para petugas mengurungkan niatnya, sebab jenazah Syekh Nawawi (beserta kafannya) masih utuh walaupun sudah bertahun-tahun dikubur. Karena itu, bila pergi ke Makkah, insya Allah kita akan bisa menemukan makam beliau di pemakaman umum Ma’la. Banyak juga kaum muslimin yang mengunjungi rumah bekas peninggalan beliau di Serang Banten.
Syekh Nawawi Al-Bantani mampu melihat dan memperlihatkan Ka’bah tanpa sesuatu alatpun. Cara ini dilakukan oleh Syekh Nawawi ketika membetulkan arah kiblatnya Masjid Jami’ Pekojan Jakarta Kota.
 
Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany, 24 Ramadhan, tahun 545 H.di Madrasahnya

Anak-anak sekalian, jujurlah anda semua padaku dengan sesungguhnya. Kalian sedang mencari solusi harta dan persoalan di rumah anda. Saya tidak berharap pada kalian kecuali tulus dan ikhlas. Dan itu sangat berguna bagimu, bukan bagiku.

Ikatlah ucapanmu, baik lahir maupun batin, karena lahiriyahmu  senantiasa diawasi oleh para malaikat, sedangkan batinmu senantiasa diawasi oleh Allah Azza wa-Jalla.

Hai orang-orang yang terus begulat diantara gedung-gedung mewah dan rumah istana, yang telah menghabiskan umurnya demi gairah dunia, janganlah anda membangun apa pun kecuali dengan niat yang baik. Karena pondasi bangunan dunia itu adalah niat yang sholihah. Karena itu bangunanmu jangan kau tegakkan atas dasar hawa nafsumu.

Karena orang bodoh itu membangun dunia dengan hawa nafsunya, watak dan kebiasaannya tanpa ada kepastian aturan dan keserasian dengan rencana Allah Azza wa-Jalla serta TindakanNya. Tentu hal demikian tidak layak untuk kesertaan kebaikan, tidak pula disiapkan untuk ditempati orang lain. Kelak di hari Kiamat besok ditanya, “Kenapa anda membangun ini, darimana asal hartamu, kenapa tidak anda nafkahkan? Semuanya dihisab. Carilah ridho dan keserasian, dan terimalah bagianmu, jangan mencari yang bukan bagianmu. Sebagaimana sabda Nabi Saw “Siksa Allah Azza wa-Jalla paling pedih bagi hambaNya di diunia ini adalah saat si hamba mencari harta yang bukan bagiannya.”

Kemarilah datang kepadaku. Namun bila kalian tidak ada baik sangka padaku, ucapanku tidak berguna.

Sungguh celaka. Kalian mengaku muslim, tetapi kalian kontra dengan Allah Azza wa-Jalla, menentang hamba-hambaNya yang orang-orang saleh, sungguh pengakuan anda berdusta.

Islam itu bersumber dari kata Istislam (pasrah) pada ketentuan Allah Azza wa-Jalla, pada QudratNya, dan rela pada tindakanNya disertai menjaga aturan Kitabullah dan Sunnah RasulNya Saw, maka keislaman anda baru sah.

Dampak negatif imajinasi anda yang memanjang membuat anda terjerumus dalam kemaksiatan dan kontra padaNya Azza wa-Jalla. Sebaliknya jika anda bisa memutus lamunan anda, kebaikan datang dengan sendirinya, maka pegang teguhlah ini, jangan sampai lepas, keberuntungan bakal tiba.

Takdir apa pun, pasti datang dari TanganNya Azza wa-Jalla, dan anda ridho, dengan keserasian diri pada syariat disertai kerelaan padaNya, tanpa nafsu, tanpa kesenangan hawa nafsu, tanpa watak selera dan syetan. Karena syetan terkadang memberikan bantuan pada mereka, sebab dari berbagai arah dan segi, kita ini tidak terjaga dari dosa, setelah kepergian para Nabi as. Para Nabi itu jiwanya tenang, hawa nafsunya telah dikalahkan, pengaruh selera wataknya telah redam, dan syetannya telah dipenjara. Tak ada yang mempengaruhi dirinya. Keberserahan dirinya bukan pada sebab akibat, sedangkan tauhidnya menepiskan ketiadaan bahaya dan manfaat pada makhluk.

Sedangkan anda? Semua dirimu penuh nafsu, penuh kesenangan, penuh dengan kebiasaan selera, tak ada tawakkal, tak ada tauhid. Berita tentang kepahitan, kemudian keindahan, lalu remuk redam, kemudiaan terhimpit, lalu mati, kemudian hidup selamanya. Hina kemudian mulia, fakir kemudian cukup, tiada kemudian ada karenaNya, bukan karena dirimu.

Jika anda sabar menghadapi semua itu, maka telah benar apa yang anda kehendaki dari Allah Azza wa-Jalla. Jika tidak maka tidak benar pula proses hidupmu menuju Allah Azza wa-Jalla.

Segala hal yang menyibukkan dirimu lalu membuatmu lalai, adalah keburukan, walaupun anda melakukan sholat, puasa dan kewajiban-kewajiban Azza wa-Jalla, jauh dari muroqobah (sadar akan WaspadaNya), jauh dari kebajikan hidup bersamaNya, padahal orientasi hidup itu adalah berdekatan denganNya. Sedangkan anda adalah hamba yang terhijab, hamba makhluk, hamba hawa nafsu.

Sang arif itu senantiasa teguh bersama Allah Azza wa-Jalla di bawah benedera taqarrubnya dengan pengetahuan dan rahasia batinnya, berserasi dengan qadha’ dan qadarNya, maka tiba-tiba ia tak berdaya dalam peran, tanpa peran, bergerak tanpa gerak, diam tanpa pendiaman dirinya, maka ia tergolong orang yang disebut dalam Al-Qur’an: “Dan Kami membolak-balik mereka  ke arah kanan dan kiri.” (QS. Al-Kahfi: 18)

Ketika mereka lemah tak berdaya, mereka bergerak dengan KuasaNya, dan diam dan pasrah ketika tak berdaya. Bergerak ketika eksistensinya ada, dan diam ketika tiada. Gerak dalam aturan hukum, diam dalam pengetahuan.

Sesungguhnya baru benar jika anda telah keluar dari hawa nafsu, watak, kemakhlukan secara total. Karena itu anda jangan mengikat diri pada makhluk yang tak memiliki cahaya dan manfaat sedikit pun, dan tiada ada yang memberi rizki selain Tuhanmu Azza wa-Jalla.

Seharusnya, selamanya anda patuh padaNya, menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya, hingga tak tersisa dalam dirimu kecuali hanya Allah Azza wa-Jalla. Sehingga anda menjadi makhluk terkaya dan termulia. Anda pun akan seperti Adam as, dimana seluruh makhluk diperintahkan sujud padanya. Ini semua tersembunyi di balik akal orang awam, namun kebanyakan kaum khusus yang merupakan bagian dari inti Adam as.

Hai orang yang sedikit manfaat ilmunya, belajarlah, dan bersunyilah dari makhluk, lalu keluarlah, dengan hati yang sunyi walaupun secara lahiriyah ada di tengah publik, dalam rangka menata mereka. Batinnya bersama Allah Azza wa-Jalla, penuh khidmah dan kesahabatan (kedekatan), penuh dengan disiplin, penuh rasa kembali dan bereksistensi dengan pergaulan makhluk, sedangkan hatinya bersama Allah Azza wa-Jalla. Secara lahiriyah ia sibuk dengan aturan hukum, seperti ketika pakaian kotor ia cuci, ia beri parfum, ketika robek ia jahit. Mereka ini adalah para pemimpin makhluk, kokoh bagai tegarnya bukit, sedangkan hatinya bersama Tuhannya Azza wa-Jalla, terhampar, mewaspada dan terus-menerus menyelami pengetahuanNya.

Ya Allah jadikan menu sarapan kami adalah dzikir kepadaMu, dan rasa cukup kami adalah mendekat kepadaMu. Amin.

Tapi anda ini hatinya mati, dan anda bersahabat dengan kematian hati. Seharusnya anda bergaul dengan orang-orang yang hidup, para Nujaba’ (Waliyullah), para Wali Badal (Budala’). Tapi anda ini malah jadi kuburan yang mendatangi kuburan, bangkai mendatangi bangkai. Anda adalah zaman yang tak lebih mendatangi zaman yang lain. Anda orang buta, dan dituntun oleh orang buta.

Karena itu bergaullah dengan orang beriman, yang terus ber-muroqobah, dan saleh. Sabarlah dengan ucapan mereka, terimalah dan amalkan anda akan beruntung. Dengarkan para guru dan amalkan, hormati mereka, anda akan beruntung. Saya punya seorang guru, setiap ada kesulitan padaku, dan muncul di benakku, ia bicara padaku, dan aku tidak berargumen sama sekali, karena itulah caraku menghormatinya dan dan beradab bagus padanya. Dan saya tidak pernah berguru pada guru mana pun melainkan aku sangat menghormati dan menjaga adab yang bagus

Sang sufi tidak akan pernah pelit, karena memang tidak ada yang dijadikan objek kebakhilan pada dirinya Sang sufi telah menegaskan untuk meninggalkan semuanya, kalau ia diberi, maka itu untuk yang lain, bukan untuk dirinya. Hatinya benar-benar jernih dari materi-materi dan imajinasi rupa. Yang disebut pelit itu orang yang berharta. Sedangkan sufi hartanya untuk yang lain. Bagaimana ia disebut bakhil pada harta orang lain? Musuh maupun kawan tidak ada bedanya, apakah ia dipuji maupun dicaci, sama sekali tak membuatnya bergeming, karena ia tidak pernah memandang pemberian itu, halangan, manfaat selain dari Allah Azza wa-Jalla.

Ia tidak gembira karena hidup, tidak susah karena kematian. Kematiannya adalah jika mendapat amarah Tuhannya Azza wa-Jalla, dan kehidupannya adalah ridhoNya. Dalam keramaian ia bisa gelisah, dalam kesendirian ia bisa bahagia. Konsumsinya adalah dzikir kepada Allah Azza wa-Jalla, minumannya adalah minuman kebahagiaan bersamaNya, apalagi sekadar pelit terhadap dinding dunia dan seisinya, karena ia lebih cukup dari sekadar dunia seisinya.

“Ya Tuhan kami, berikan kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan lindungi kami dari azab neraka.”
Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany
Sudah berapa kali anda belajar tetapi tidak pernah mengamalkan? Lipatlah pustaka ilmu, lalu sibuklah dengan pustaka amal disertai dengan ikhlas, jika tidak, pencarianmu pada ilmu tidak menguntungkan sama sekali. 

Hanya mencari ilmu saja, berarti anda berdosa pada Allah Swt. melalui perbuatan anda. Berarti pula anda melemparkan tirai rasa malumu dari matamu, hingga orang melihatmu dengan pandangan penuh hina. Anda tersiksa karena hawa nafsumu, gagal karena hawa nafsumu, bergerak karena hawa nafsumu, apalagi anda hancur karena hawa nafsumu. Malulah kepada Allah Azza wa-Jalla dalam seluruh perilakumu, dan amalkan ketentuan hukumNya. Bila anda hanya mengamalkan menurut lahiriyahnya hukum belaka, sungguh anda telah meremehkan amal anda untuk mengenal Allah Azza wa-Jalla.

“Ya Allah ingatkan kami dari kealpaan orang-orang yang lalai. Amiin.”

Bila anda menumpuk dosa, bahaya akan tiba dan menimpa dirimu. Jika anda taubat dan memohon ampunan pada Allah Azza wa-Jalla, anda pun memohon pertolongan padanya, anda pun akan meraihnya. Jika ada cobaan menimpamu, mohonlah pada Allah Azza wa-Jalla, agar Dia menurunkan anugerah kesabaran padamu dan keselarasan denganNya, hingga antara dirimu dengan DiriNya damai. Lalu derita hanya di lahiriyah belaka tidak sampai masuk di hati, hanya pada harta bukan pada agama, hingga cobaan berubah jadi nikmat yang sirna dari kepedihan.

Hai orang munafik!Anda ini mengikuti perintah Allah Azza wa-Jalla dan RasulNya hanya formalitas nama belaka, tidak sampai menyentuh makna sesungguhnya, berarti lahir batin anda telah dusta. Wajar jika anda hina di dunia dan di akhirat. Ahli maksiat hina dalam dirinya, pendusta juga hina dalam dirinya.

Hai para Ulama jangan kau kotori ilmumu dengan kontaminasi generasi duniawi, jangan anda ikuti kemuliaan dengan kehinaan. Yang hina adalah apa yang ada di tangannya senantiasa duniawi. Makhluk lain itu tidak akan mampu memberi anda, yang memang bukan bagian anda. Bagianmu adalah di atas tangan mereka, jika anda sabar justru Allah akan memberikan bagianmu di atas tangan mereka, dan anda mulia (Justru anda jadi pemberi).

Ingat! Siapa yang diberi rizki tidak mendapat rizki? Siapa yang diberi tidak meraih pemberian? Sibukkan dirimu dengan patuh pada Allah Azza wa-Jalla, tinggalkan berburu dariNya, karena apa yang anda butuhkan Allah Azza wa-Jalla Maha Tahu mashatamu. Dalam hadits Qudsy disebutkan:
“Siapa yang sibuk dengan dzikir padaKu dibanding meminta padaKu, Aku memberinya lebih utama ketimbang yang diberikan kepada para peminta.”

Dzikir lisan saja tanpa hati tidak ada kemuliaan sama sekali. Dzikir sesungguhnya harus disertai dzikir hati dan rahasia hati, baru muncul dzikir lisan. Maka benarlah Dzikirnya Allah Azza wa-Jalla:

“Ingatlah kepadaKu maka Aku ingat kepadamu, dan bersykurlah kepadaKu dan janganhlah kufur padaKu.” (Al-Baqarah: 152)

Dzikirlah hingga Allah Azza wa-Jalla mengingatmu. Dzikirlah hingga dosa-dosamu dihapus oleh dzikir, lalu anda bersih dari noda, taat tanpa maksiat. Di saat itulah Allah Azza wa-Jalla mengingatmu, sehingga anda sibuk berdzikir padaNya jauh mengingat makhlukNya, dan DzikirNya menyibukkan dirimu dari memintaNya, hingga seluruh tujuanmu adalah Dia, lalu anda total meraih tujuanmu.

Jika Dia adalah seluruh tujuanmu, di tangan hatimu kunci-kunci RahasiaNya dibukakan. Siapa yang mencintai Allah Azza wa-Jalla, cinta kepada yang lainNya sirna, fisik, lahir dan batinnya, jiwanya untuk disediakan bagi Kekasihnya, lalu ia menjadi di luar kebiasaan dirinya dan di luar keramaian, dan ketika sudah sempurna, Allah Azza wa-Jalla mencintainya. Apakah anda merenungkan dan memandang ini semua?

Kehadiranmu akan diturunkan, dan ketika itu malah anda didatangi Malaikat Maut yang menjemputmu, mencopot hidupmu dari tempatmu, memisahkan dirimu dari keluarga dan orang-orang yang kau cintai. Berusahalah serius agar dirimu tidak mati dalam keadaan benci bertemu Allah Azza wa-Jalla. Siapkan langkahmu ke akhirat, tunggulah kematian, karena anda akan melihat di sisi Allah Azza wa-Jalla sesuatu yang lebih baik dibanding apa yang anda lihat di dunia.

“Ya Tuhan kami berikanlah kami kebajikan di dunia, dan kebajikan di akhirat. Dan lindungi kami dari azab neraka.”

Total Tayangan Laman

Dzikir Asma'ul Husna

Produk-Produk yg menghina Islam

Misteri Nabi Khidir AS

INFO - INFO

Menyambut Kedatangan Imam Mahdi

Job & Career

Popular Posts